Cacar Ular Bukan Sekadar Ruam: Kenali Herpes Zoster Sejak Awal
Herpes zoster dapat diawali rasa panas, nyeri, kesemutan, atau gatal sebelum ruam muncul. Dengan mengenali tanda awal dan faktor risikonya, terutama pada usia lanjut, langkah penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Selain membahas gejala herpes zoster dan pengobatannya, artikel ini juga menjelaskan vaksin herpes zoster dan kaitannya dengan kesehatan pembuluh darah secara hati-hati. Cocok untuk pembaca dewasa, keluarga pasien, dan mereka yang ingin menjaga kesehatan jangka panjang dengan informasi yang tepercaya.
Herpes zoster sering baru disadari saat muncul nyeri, rasa panas, kesemutan, atau ruam yang terasa tidak biasa pada satu sisi tubuh. Di Indonesia, kondisi ini juga dikenal sebagai cacar ular atau cacar api. Meski tampak seperti masalah kulit, herpes zoster perlu dipahami lebih menyeluruh, terutama pada usia 50 tahun ke atas.
Secara medis, herpes zoster terjadi ketika virus varicella-zoster aktif kembali di dalam tubuh. Ini adalah virus yang sama dengan penyebab cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tersebut dapat tetap berada dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif, lalu aktif kembali di kemudian hari sebagai herpes zoster. Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan herpes zoster sebagai reaktivasi dari virus varicella-zoster yang sebelumnya menyebabkan cacar air.
Faktanya, risiko herpes zoster dan komplikasinya meningkat seiring bertambahnya usia. Karena itu, mengenali gejala sejak awal dapat membantu pasien dan keluarga mengambil langkah yang lebih tepat, tanpa panik dan tanpa menebak sendiri. The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut herpes zoster dapat menimbulkan komplikasi seperti nyeri saraf jangka panjang dan gangguan penglihatan, sementara vaksinasi menjadi salah satu langkah pencegahan penting.

Artikel ini membahas herpes zoster dengan bahasa yang sederhana: mulai dari penyebab, gejala, penularan, komplikasi, pencegahan, hingga kapan perlu berkonsultasi dengan dokter. Di bagian tertentu, artikel ini juga menjelaskan kaitannya dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah secara hati-hati, proporsional, dan berbasis bukti.
Apa Itu Herpes Zoster?
Herpes zoster adalah penyakit ruam kulit yang biasanya terasa nyeri, gatal, panas, atau kesemutan. Ruam sering muncul pada satu sisi tubuh, misalnya di dada, punggung, perut, pinggang, leher, atau wajah. Centers for Disease Control and Prevention menjelaskan herpes zoster sebagai penyakit ruam nyeri akibat reaktivasi virus varicella-zoster, yaitu virus penyebab cacar air.
Dalam percakapan sehari-hari, herpes zoster sering disebut cacar ular. Istilah ini kemungkinan muncul karena ruam dapat tampak memanjang mengikuti jalur saraf. Selain itu, sebagian orang menyebutnya cacar api karena nyeri yang terasa panas, perih, atau seperti terbakar.
Namun, penting untuk meluruskan satu hal: herpes zoster bukan disebabkan oleh ular, bukan karena “darah kotor”, dan bukan kondisi mistis. Ini adalah kondisi medis yang dapat dikenali dan ditangani dengan pemeriksaan yang tepat.
Hubungan Herpes Zoster dengan Cacar Air
Cacar air dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama, yaitu varicella-zoster. Bedanya, cacar air biasanya terjadi saat infeksi pertama kali, sedangkan herpes zoster muncul ketika virus yang sudah lama menetap di tubuh aktif kembali.

Tidak semua orang yang pernah cacar air pasti akan mengalami herpes zoster. Namun, riwayat cacar air membuat seseorang memiliki kemungkinan mengalami herpes zoster di kemudian hari, terutama bila usia bertambah atau daya tahan tubuh menurun.
Baca juga:
Siapa yang Berisiko Mengalami Herpes Zoster?
Herpes zoster dapat terjadi pada siapa saja yang pernah terinfeksi virus varicella-zoster. Namun, beberapa kelompok perlu lebih waspada karena risikonya lebih tinggi atau komplikasinya dapat lebih mengganggu.
Usia 50 Tahun ke Atas
Risiko herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia. CDC juga menyebut risiko herpes zoster dan komplikasi seriusnya meningkat ketika seseorang semakin tua.
Bagi pembaca usia 50 tahun ke atas, informasi ini bukan untuk menakut-nakuti. Sebaliknya, ini adalah pengingat agar gejala dikenali lebih awal. Dengan begitu, pasien dapat berkonsultasi lebih cepat dan mengurangi risiko keluhan yang mengganggu aktivitas harian.
Apalagi pada usia pensiun yang masih aktif, nyeri herpes zoster dapat mengganggu tidur, ibadah, olahraga ringan, aktivitas sosial, hingga waktu bersama keluarga. Karena itu, deteksi dini menjadi bagian penting dari menjaga kualitas hidup.
Daya Tahan Tubuh yang Menurun
Selain usia, daya tahan tubuh juga berperan. Herpes zoster lebih mungkin terjadi ketika sistem imun sedang melemah. Kondisi ini dapat berkaitan dengan penyakit tertentu, pengobatan yang menekan sistem imun, terapi kanker, atau kondisi medis lain yang membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi. Mayo Clinic mencatat bahwa usia, kondisi medis, terapi kanker, dan obat tertentu dapat meningkatkan risiko herpes zoster.
Bila Anda memiliki penyakit kronis atau sedang menjalani pengobatan jangka panjang, sebaiknya diskusikan risiko pribadi dengan dokter. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda, sehingga saran medis perlu disesuaikan secara personal.
Riwayat Cacar Air
Orang yang pernah mengalami cacar air dapat mengalami herpes zoster di kemudian hari. Meski begitu, sebagian orang tidak ingat pernah terkena cacar air, terutama bila infeksinya terjadi saat kecil.
Karena itu, dokter tidak hanya menanyakan riwayat cacar air. Dokter juga akan melihat pola ruam, lokasi nyeri, usia pasien, daya tahan tubuh, serta riwayat penyakit lain sebelum menentukan diagnosis.
Gejala Herpes Zoster
Gejala herpes zoster biasanya berkembang bertahap. Pada banyak kasus, nyeri atau rasa tidak nyaman muncul lebih dulu sebelum ruam terlihat.
Gejala Awal Sebelum Ruam
Gejala awal herpes zoster dapat berupa nyeri, rasa panas, kesemutan, gatal, atau kulit terasa lebih sensitif pada area tertentu. Keluhan ini dapat muncul beberapa hari sebelum ruam berkembang. Nyeri, gatal, atau kesemutan dapat muncul di area tempat ruam akan berkembang.
Keluhan awal ini sering membingungkan. Misalnya, nyeri di dada dapat dikira nyeri otot atau masalah jantung. Nyeri di punggung dapat dikira pegal biasa. Sementara itu, rasa panas pada kulit kadang dianggap alergi atau iritasi.
Gejala awal yang perlu diperhatikan meliputi:
- nyeri pada satu area tubuh;
- rasa panas atau terbakar;
- kesemutan;
- gatal;
- kulit terasa sensitif saat disentuh;
- rasa tidak nyaman di satu sisi tubuh;
- demam ringan, sakit kepala, menggigil, atau rasa lelah pada sebagian orang.
Ciri-Ciri Ruam Cacar Ular
Ruam herpes zoster biasanya muncul sebagai bintil atau lepuh kecil berisi cairan. Ruam ini sering tampak bergerombol dan muncul pada satu sisi tubuh. CDC menjelaskan ruam herpes zoster paling sering muncul seperti satu garis atau jalur di sisi kiri atau kanan tubuh, lalu lepuh biasanya mengering dalam 7–10 hari dan membaik dalam 2–4 minggu.
Ciri-ciri ruam cacar ular yang sering terlihat:
- kulit kemerahan;
- lepuh kecil berisi cairan;
- rasa nyeri, panas, atau gatal;
- kulit terasa sensitif;
- ruam cenderung muncul di satu sisi tubuh;
- ruam dapat mengikuti jalur saraf tertentu.
Meskipun gambar di internet dapat memberi gambaran umum, jangan mendiagnosis sendiri hanya dari foto. Beberapa penyakit kulit dapat tampak mirip. Karena itu, pemeriksaan dokter tetap penting, terutama bila ruam terasa nyeri atau muncul pada usia lanjut.
Gejala yang Perlu Lebih Diperhatikan pada Lansia
Pada usia lanjut, nyeri akibat herpes zoster dapat terasa lebih berat dan berlangsung lebih lama. Selain itu, risiko nyeri saraf setelah ruam membaik juga meningkat seiring usia. CDC menyebut neuralgia pascaherpes lebih sering terjadi pada orang yang lebih tua dan dapat menyebabkan nyeri yang lebih lama serta lebih berat.
Segera pertimbangkan pemeriksaan dokter bila:
- nyeri terasa berat;
- ruam muncul di wajah atau dekat mata;
- ruam menyebar luas;
- tidur terganggu karena nyeri;
- aktivitas harian terganggu;
- nyeri tetap terasa setelah ruam mulai membaik;
- ada riwayat penyakit kronis atau daya tahan tubuh lemah.

Apakah Herpes Zoster Menular?
Herpes zoster tidak menular sebagai herpes zoster. Artinya, seseorang tidak langsung “tertular cacar ular” dari pasien herpes zoster. Namun, virus varicella-zoster dari lepuh herpes zoster dapat menular kepada orang yang belum pernah cacar air atau belum mendapat vaksin cacar air, lalu menyebabkan cacar air.
Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dari lepuh ruam. Karena itu, saat lepuh masih aktif, pasien perlu lebih berhati-hati untuk melindungi orang di sekitar.
Cara Melindungi Keluarga di Rumah
Langkah sederhana berikut dapat membantu mengurangi risiko penularan:
- tutup area ruam bila memungkinkan;
- hindari menyentuh atau menggaruk lepuh;
- cuci tangan secara rutin;
- jangan berbagi handuk, pakaian, atau kain yang bersentuhan dengan ruam;
- hindari kontak dekat dengan kelompok rentan sampai lepuh mengering.
Kelompok yang perlu lebih dilindungi meliputi ibu hamil yang belum pernah cacar air atau belum divaksin, bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah, serta orang dengan daya tahan tubuh lemah. Centers for Disease Control and Prevention menyarankan pasien herpes zoster menghindari kontak dengan kelompok tersebut sampai ruam mengering atau berkeropeng.
Namun demikian, pasien tidak perlu merasa dijauhi. Tujuannya adalah menjaga keamanan bersama, terutama bagi anggota keluarga yang belum memiliki perlindungan terhadap virus varicella-zoster.
Komplikasi Herpes Zoster
Herpes zoster sering dikenali dari ruamnya. Namun, keluhan yang paling mengganggu justru dapat muncul dari nyeri saraf atau komplikasi setelah ruam membaik.
Neuralgia Pascaherpes
Neuralgia pascaherpes adalah nyeri saraf yang menetap di area bekas ruam setelah lepuh membaik. CDC menyebut kondisi ini sebagai komplikasi herpes zoster yang paling umum. Nyeri dapat berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun pada sebagian orang.
Bagi pasien usia lanjut, nyeri saraf ini dapat sangat mengganggu. Kulit bisa tetap terasa nyeri meski hanya tersentuh kain. Tidur dapat terganggu. Bahkan, aktivitas sederhana seperti memakai pakaian, mandi, atau bergerak dapat terasa tidak nyaman.
Kabar baiknya, nyeri ini dapat dievaluasi dan ditangani oleh dokter. Karena itu, jangan menunggu sampai nyeri menjadi sangat berat sebelum mencari pertolongan.
Ruam di Wajah atau Dekat Mata
Herpes zoster yang muncul di wajah, terutama dekat mata, perlu diperiksa segera. CDC menyebut herpes zoster pada wajah dapat memengaruhi mata dan menyebabkan gangguan penglihatan.
Tanda yang perlu diwaspadai meliputi:
- ruam di sekitar mata;
- mata merah atau nyeri;
- kelopak mata bengkak;
- penglihatan terasa buram;
- nyeri wajah yang berat;
- ruam di dahi atau hidung.
Jangan mengoleskan obat mata, salep, atau ramuan apa pun tanpa arahan dokter. Area mata sangat sensitif dan perlu penilaian medis yang tepat.
Kaitan dengan Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
Herpes zoster tetap merupakan penyakit infeksi virus, bukan penyakit jantung. Namun, beberapa penelitian mengamati adanya kaitan antara riwayat herpes zoster dan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular, seperti stroke atau serangan jantung.
Sebuah laporan yang membahas studi di Journal of the American Heart Association menyebut riwayat herpes zoster berkaitan dengan peningkatan hampir 30% risiko jangka panjang kejadian kardiovaskular besar. Namun, studi tersebut bersifat observasional, sehingga tidak membuktikan bahwa herpes zoster secara langsung menyebabkan serangan jantung atau stroke.
Jadi, maknanya bukan: “setiap orang dengan herpes zoster pasti akan mengalami gangguan jantung”. Maknanya lebih tepat: “bila Anda berusia lanjut atau memiliki faktor risiko jantung, herpes zoster dapat menjadi pengingat untuk lebih memperhatikan kesehatan tubuh secara menyeluruh”.
Faktor risiko yang perlu diperhatikan meliputi:
- hipertensi;
- diabetes;
- kolesterol tinggi;
- riwayat stroke;
- riwayat penyakit jantung;
- merokok;
- usia lanjut;
- daya tahan tubuh lemah.

Bila setelah herpes zoster muncul nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar berat, kelemahan satu sisi tubuh, wajah mencong, atau bicara pelo, jangan menganggapnya sebagai bagian biasa dari ruam kulit. Gejala tersebut perlu dievaluasi segera.
Baca juga:
- Atrial Flutter dan Risiko Stroke: Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan
- Hipertensi Primer Sering Tanpa Gejala: Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Pencegahan dan Deteksi Dini
Herpes zoster tidak selalu bisa diprediksi. Namun, deteksi dini dan pencegahan dapat membantu mengurangi dampaknya, terutama pada usia 50 tahun ke atas.
Mengapa Deteksi Dini Penting?
Pengobatan herpes zoster dapat bekerja lebih baik bila dimulai lebih awal. CDC menyebut obat antivirus seperti acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir dapat memperpendek durasi serta tingkat keparahan penyakit, terutama bila digunakan segera setelah ruam muncul.
Namun, obat tersebut harus digunakan sesuai arahan dokter. Artikel ini tidak menggantikan konsultasi medis dan tidak memberikan dosis obat. Bila Anda menduga mengalami herpes zoster, apalagi bila ruam terasa nyeri, muncul di wajah, atau terjadi pada usia lanjut, sebaiknya segera periksa.
Peran Vaksin Herpes Zoster
Vaksinasi merupakan salah satu cara penting untuk mencegah herpes zoster dan komplikasinya. Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan vaksin herpes zoster rekombinan dalam dua dosis untuk orang dewasa usia 50 tahun ke atas, serta orang dewasa usia 19 tahun ke atas dengan daya tahan tubuh lemah karena penyakit atau terapi tertentu.
CDC juga menyebut vaksinasi herpes zoster memiliki efektivitas lebih dari 90% untuk mencegah herpes zoster dan neuralgia pascaherpes pada orang dewasa usia 50 tahun ke atas dengan sistem imun sehat.
Di Indonesia, keputusan vaksinasi tetap perlu didiskusikan dengan dokter. Dokter akan mempertimbangkan usia, riwayat penyakit, alergi, kondisi imun, riwayat herpes zoster sebelumnya, dan kondisi kesehatan saat ini. Vaksin digunakan untuk pencegahan, bukan untuk mengobati ruam herpes zoster yang sedang aktif. CDC menyebut seseorang yang sedang mengalami herpes zoster tidak sebaiknya menerima vaksin tersebut sampai kondisinya pulih.

Menjaga Daya Tahan Tubuh dan Penyakit Kronis
Menjaga kesehatan umum tidak menjamin seseorang pasti terhindar dari herpes zoster. Namun, langkah ini membantu tubuh lebih siap menghadapi infeksi dan menjaga kualitas hidup.
Langkah yang dapat dilakukan meliputi:
- tidur cukup;
- makan bergizi seimbang;
- tetap aktif bergerak sesuai kemampuan;
- mengelola stres;
- mengontrol tekanan darah;
- mengelola diabetes bila ada;
- menjaga kadar kolesterol;
- berhenti merokok;
- melakukan pemeriksaan kesehatan berkala;
- berkonsultasi sebelum memulai obat atau suplemen tertentu.
Bagi usia 50 tahun ke atas, pencegahan bukan hanya soal menghindari penyakit. Di atas segalanya, pencegahan membantu menjaga kemandirian, kenyamanan, dan kemampuan menjalani aktivitas harian.
Baca juga:
- Asam Urat Tinggi: Apa Hubungannya dengan Ginjal, Diabetes, dan Jantung?
- Napas Berhenti Saat Tidur? Kenali Gejala Sleep Apnea Sejak Dini

Kapan Harus ke Dokter?
Tidak semua ruam harus membuat panik. Namun, beberapa kondisi membutuhkan pemeriksaan lebih cepat agar penyebab dan penanganannya dapat dipastikan.
Segera Periksa Bila Muncul Tanda Ini
Hubungi dokter bila:
- Anda berusia 50 tahun ke atas dan muncul ruam nyeri;
- ruam berada di wajah atau dekat mata;
- nyeri terasa berat;
- ruam menyebar luas;
- Anda memiliki daya tahan tubuh lemah;
- ruam disertai demam atau kondisi tubuh menurun;
- nyeri tetap terasa setelah ruam membaik;
- Anda memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau stroke.
Mayo Clinic menyarankan pasien segera menghubungi tenaga kesehatan bila mencurigai herpes zoster, terutama bila ruam dekat mata, berusia 50 tahun ke atas, memiliki sistem imun lemah, atau ruam luas dan nyeri.

Segera Cari Bantuan Bila Ada Tanda Jantung atau Stroke
Beberapa gejala tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari herpes zoster. Segera cari bantuan medis bila muncul:
- nyeri dada;
- sesak napas;
- jantung berdebar berat;
- keringat dingin disertai lemas;
- kelemahan satu sisi tubuh;
- wajah mencong;
- bicara pelo;
- sakit kepala berat mendadak;
- kebingungan mendadak;
- gangguan penglihatan mendadak.
Pada kondisi seperti ini, yang paling penting bukan menebak penyebabnya. Yang paling aman adalah mendapatkan evaluasi medis secepat mungkin.
Baca Juga:
Bagaimana Heartology Mendukung Kesehatan Jantung Secara Menyeluruh?
Heartology memandang kesehatan jantung dan pembuluh darah sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dijaga secara menyeluruh. Pada topik herpes zoster, Heartology tidak memosisikan diri sebagai pusat pengobatan utama untuk ruam kulit. Namun, Heartology berperan sebagai sumber edukasi dan mitra evaluasi kesehatan jantung, terutama bagi pembaca yang memiliki faktor risiko kardiovaskular.
Mengapa ini penting? Karena pada usia 50 tahun ke atas, satu keluhan kesehatan sering kali tidak berdiri sendiri. Ruam dan nyeri perlu ditangani. Daya tahan tubuh perlu diperhatikan. Selain itu, faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol, riwayat stroke, atau riwayat penyakit jantung juga perlu dikelola dengan baik.
Kapan Konsultasi Jantung Relevan?
Konsultasi jantung dapat dipertimbangkan bila:
- Anda memiliki riwayat penyakit jantung;
- Anda memiliki hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi;
- Anda pernah mengalami stroke;
- Anda mengalami nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar;
- muncul gejala saraf seperti bicara pelo, wajah mencong, atau kelemahan satu sisi tubuh;
- Anda ingin melakukan evaluasi preventif karena usia atau riwayat keluarga.
Pendekatan yang menyeluruh membantu pasien tidak hanya merespons gejala, tetapi juga memahami risiko dan langkah pencegahan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Kesimpulan
Herpes zoster atau cacar ular adalah kondisi akibat aktifnya kembali virus varicella-zoster, virus yang sama dengan penyebab cacar air. Gejalanya dapat diawali nyeri, panas, kesemutan, atau gatal sebelum ruam muncul. Pada usia 50 tahun ke atas, kondisi ini perlu dikenali lebih awal karena dapat menimbulkan nyeri saraf berkepanjangan dan mengganggu kualitas hidup.
Selain itu, beberapa penelitian mengaitkan herpes zoster dengan peningkatan risiko kardiovaskular. Namun, hubungan ini perlu dipahami sebagai potensi risiko, bukan kepastian. Bagi pembaca dengan hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, riwayat stroke, atau penyakit jantung, herpes zoster dapat menjadi pengingat untuk lebih peduli terhadap kesehatan secara menyeluruh.
Akhirnya, Anda tidak perlu panik, tetapi juga tidak perlu menebak sendiri. Bila muncul ruam nyeri, terutama pada usia lanjut, dekat mata, terasa berat, atau disertai keluhan jantung dan saraf, pemeriksaan dokter adalah langkah yang paling aman. Dengan pemahaman yang tepat, herpes zoster dapat dikenali lebih awal, ditangani lebih baik, dan dijadikan momentum untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Pertanyaan Umum Seputar Herpes Zoster
Berikut ini beberapa pertanyaan seputar herpes zoster yang seringkali ditanyakan oleh masyarakat di Indonesia pada umumnya.
Herpes Zoster
Herpes zoster adalah kondisi akibat aktifnya kembali virus varicella-zoster, yaitu virus yang sama dengan penyebab cacar air. Kondisi ini sering menimbulkan ruam nyeri, biasanya pada satu sisi tubuh, dan dikenal masyarakat sebagai cacar ular atau cacar api.
Apakah herpes zoster sama dengan cacar ular?
Ya. Dalam penggunaan sehari-hari, herpes zoster sering disebut cacar ular atau cacar api. Herpes zoster adalah istilah medisnya, sedangkan cacar ular adalah istilah awam yang merujuk pada pola ruam dan rasa nyeri yang dapat memanjang di area tertentu.
Apa gejala awal herpes zoster?
Gejala awal herpes zoster dapat berupa nyeri, rasa panas, kesemutan, gatal, atau kulit terasa sensitif pada area tertentu. Keluhan ini dapat muncul beberapa hari sebelum ruam terlihat. Sebagian orang juga dapat mengalami demam, sakit kepala, menggigil, atau rasa tidak enak badan.
Apakah herpes zoster menular?
Herpes zoster tidak menular sebagai herpes zoster. Namun, virus dari lepuh dapat menular kepada orang yang belum pernah cacar air atau belum divaksin cacar air, lalu menyebabkan cacar air. Karena itu, ruam sebaiknya ditutup dan kontak dengan kelompok rentan perlu dibatasi sampai lepuh mengering.
Siapa yang lebih berisiko mengalami herpes zoster?
Risiko herpes zoster lebih tinggi pada usia 50 tahun ke atas, orang dengan daya tahan tubuh menurun, dan orang yang pernah mengalami cacar air. Meski begitu, tidak semua orang dengan faktor risiko pasti akan mengalami herpes zoster.
Apakah herpes zoster berbahaya?
Herpes zoster tidak selalu berbahaya, tetapi dapat menimbulkan komplikasi pada sebagian orang. Komplikasi yang paling sering dikhawatirkan adalah nyeri saraf jangka panjang atau neuralgia pascaherpes. Ruam di area mata juga perlu diperiksa segera karena dapat memengaruhi penglihatan.
Apakah herpes zoster bisa memengaruhi kesehatan jantung?
Beberapa penelitian mengaitkan herpes zoster dengan peningkatan risiko kardiovaskular seperti stroke atau serangan jantung. Namun, ini bukan berarti setiap orang dengan herpes zoster pasti mengalami gangguan jantung. Risiko pribadi perlu dinilai berdasarkan usia, riwayat penyakit, dan faktor risiko lain.
Kapan herpes zoster harus diperiksakan ke dokter?
Segera konsultasi bila ruam muncul pada usia di atas 50 tahun, terasa sangat nyeri, berada di wajah atau dekat mata, menyebar luas, atau terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh lemah. Pemeriksaan juga penting bila nyeri tetap terasa setelah ruam membaik.
Apakah vaksin herpes zoster diperlukan?
Vaksin herpes zoster dapat menjadi salah satu upaya pencegahan, terutama pada usia dewasa dan lansia. CDC merekomendasikan dua dosis vaksin herpes zoster untuk orang dewasa usia 50 tahun ke atas dan kelompok tertentu dengan daya tahan tubuh lemah. Kebutuhan vaksinasi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter.
Kapan pasien herpes zoster perlu evaluasi jantung?
Evaluasi jantung perlu dipertimbangkan bila pasien memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, riwayat stroke, atau mengalami nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, kelemahan satu sisi tubuh, wajah mencong, atau bicara pelo.











