Ini Dia 5 Bahaya Utama Vape yang Tidak Kalah Serius dari Rokok
Vape sering dianggap lebih aman daripada rokok biasa. Padahal cairan vape tetap mengandung zat berbahaya seperti nikotin dan formaldehid yang dapat memicu kecanduan dan kerusakan organ. Kenali 5 bahaya vaping utama agar Anda lebih waspada.
- Kandungan Berbahaya dalam Vape
- Dampak Vape terhadap Sistem Pernapasan
- Dampak Vape terhadap Jantung & Pembuluh Darah
- Bahaya Vape untuk Remaja dan Anak Muda
- Efek Bahaya Vape pada Kehamilan
- Risiko Paparan Vape pada Orang Sekitar
- Vape vs Rokok Biasa: Mana Lebih Berbahaya?
- Tips dan Langkah untuk Berhenti Nge-Vape
- Kapan Harus Periksa ke Dokter?
- Pertanyaan Umum
Vape atau rokok elektrik sering dipasarkan sebagai alternatif lebih aman, tapi penelitian menunjukkan risikonya nyata. Artikel ini membahas kandungan berbahaya vape (nikotin, diacetil, formaldehid) dan efek kesehatan seriusnya – dari iritasi paru hingga penyakit jantung. Temukan juga tips untuk berhenti vaping.
Banyak orang di Indonesia beralih ke vape dengan harapan dapat “mengurangi bahaya” dari rokok konvensional. Keyakinan ini memang mudah dipahami—uapnya tampak lebih ringan, aromanya lebih bervariasi, dan produk ini sering dipromosikan sebagai pilihan yang lebih modern dan aman. Namun, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut perlu ditinjau ulang. Bahaya vape bisa jadi tidak kalah serius dibandingkan rokok biasa.
Faktanya, sejumlah lembaga kesehatan besar di dunia seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan World Health Organization (WHO) menemukan bahwa uap vape tetap mengandung bahan kimia iritan, nikotin, logam berat, serta senyawa toksik yang dapat memengaruhi banyak organ penting.
Selain itu, perhimpunan medis di Indonesia seperti PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) dan PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) juga menyoroti risiko vape terhadap kesehatan paru dan jantung. Karena itu, klaim bahwa rokok elektrik “lebih aman” tidak lagi sejalan dengan bukti ilmiah yang berkembang.
Dampaknya pun tidak terbatas pada paru-paru. Berbagai studi dari organisasi seperti American Heart Association, European Society of Cardiology, hingga Johns Hopkins Medicine menunjukkan bahwa paparan aerosol vape dapat mengganggu fungsi pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, serta menambah beban kerja jantung. Di samping itu, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mencatat bahwa nikotin sangat berbahaya bagi otak remaja yang masih berkembang, dan paparan pada ibu hamil dapat memengaruhi suplai oksigen ke janin.
Semua temuan ini memberikan gambaran yang jelas: bahaya vape tidak berhenti pada satu bagian tubuh saja. Jantung, pembuluh darah, otak remaja, hingga kehamilan dapat terdampak oleh zat-zat dalam uap rokok elektrik. Karena itu, memahami risiko vaping secara menyeluruh merupakan langkah penting untuk melindungi diri dan keluarga.
Kandungan Berbahaya dalam Vape
Banyak orang mengira vape hanya menghasilkan “uap air”. Faktanya, berbagai penelitian dari lembaga seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC), World Health Organization (WHO), serta temuan laboratorium independen menunjukkan bahwa aerosol vape adalah campuran kompleks berisi ribuan bahan kimia yang dapat berdampak serius pada kesehatan. Karena itu, memahami kandungan ini penting untuk melihat gambaran utuh tentang bahaya vape dan bagaimana zat-zat tersebut memengaruhi tubuh.
1. Nikotin: Pemicu Kecanduan dan Beban Tambahan bagi Jantung
Nikotin adalah komponen yang paling dikenal dalam vape, dan sekaligus salah satu yang paling berbahaya. Banyak cairan vape mengandung nikotin pada kadar yang bervariasi, bahkan beberapa produk sekali pakai memiliki konsentrasi yang setara atau lebih tinggi dari rokok konvensional.
Mengapa nikotin berbahaya?
- Sangat adiktif. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menegaskan bahwa nikotin mengubah cara kerja otak, terutama area yang mengatur rasa senang dan pengambilan keputusan. Ini membuat pengguna mudah ketagihan dan sulit berhenti.
- Meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Nikotin merangsang sistem saraf simpatis, membuat detak jantung lebih cepat dan tekanan darah naik. Jika terjadi terus-menerus, jantung bekerja lebih keras dari semestinya.
- Mengganggu fungsi pembuluh darah. American Heart Association (AHA) dan European Society of Cardiology melaporkan bahwa nikotin dapat mempersempit pembuluh darah dan mengganggu fungsi endotel, yang berkontribusi pada risiko penyakit jantung koroner.
Dengan kata lain, nikotin dalam vape tetap berpotensi merusak kesehatan jantung, bahkan ketika pengguna merasa gejalanya “tidak sekuat rokok”.
2. Diacetyl: Bahan Perisa yang Dapat Merusak Paru
Untuk menciptakan rasa manis atau creamy, sebagian produsen vape menggunakan atau pernah menggunakan diacetyl, zat kimia yang dikenal luas dalam kasus penyakit paru berat bronchiolitis obliterans atau “popcorn lung”.
Apa yang perlu Anda ketahui tentang diacetyl?
- Diacetyl pernah menyebabkan kerusakan saluran napas kecil pada pekerja industri popcorn yang terpapar uapnya.
- Beberapa penelitian, termasuk laporan dari Harvard School of Public Health, menemukan diacetyl atau senyawa serupa dalam aerosol berbagai produk vape.
- Popcorn lung dapat menyebabkan batuk kronis, sesak napas, dan gangguan fungsi paru permanen.
Karena itu, rasa manis atau dessert-like flavor yang tampak menarik dalam liquid tidak menjamin vape bebas risiko.
3. Formaldehida & Acetaldehyde: Senyawa Karbonil yang Bersifat Iritan dan Karsinogenik
Saat cairan vape dipanaskan pada suhu tinggi, terbentuk senyawa karbonil seperti formaldehida dan acetaldehyde. Kedua senyawa ini cukup sering ditemukan dalam kajian laboratorium terkait bahaya vape.
Efek penting yang perlu dipahami:
- Sifat iritan. Formaldehida dan acetaldehyde dapat menyebabkan iritasi hidung, tenggorok, dan saluran napas, terutama jika terpapar berulang.
- Potensi menyebabkan kanker. IARC (International Agency for Research on Cancer) mengklasifikasikan formaldehida sebagai karsinogen kelompok 1 (terbukti menyebabkan kanker pada manusia).
- Risiko meningkat pada penggunaan daya tinggi. Pengaturan watt tinggi pada perangkat vape meningkatkan pembentukan senyawa karbonil ini.
Zat karbonil ini memperjelas bahwa “uap yang lebih ringan” tidak sama dengan “uap yang aman”.
4. Logam Berat: Nikel, Timbal, hingga Kromium dalam Uap Vape
Beberapa penelitian dari CDC, Johns Hopkins, dan laboratorium toksikologi menunjukkan bahwa aerosol vape dapat mengandung logam berat yang berasal dari coil pemanas atau komponen logam lainnya.
Apa dampaknya bagi tubuh?
- Toksik dan merusak jaringan. Paparan logam berat seperti timbal, nikel, dan kromium dapat merusak saraf, ginjal, sistem imun, dan pembuluh darah.
- Masuk ke paru hingga aliran darah. Partikel logam yang sangat halus dapat mencapai struktur paru yang dalam lalu beredar ke organ lain.
- Beberapa produk memiliki kadar logam yang tinggi. Temuan terbaru menemukan kadar timbal dan nikel dalam beberapa vape sekali pakai melampaui nilai yang biasa ditemukan dalam beberapa batang rokok konvensional.
Untuk kesehatan jantung, logam berat dapat memicu peradangan kronis dan mempercepat kerusakan pembuluh darah.
5. Ribuan Senyawa Kimia: Banyak yang Masih Belum Dipahami
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan terkait bahaya vape adalah jumlah bahan kimia yang terdapat dalam aerosolnya. Dalam analisis oleh Johns Hopkins University, peneliti menemukan ratusan hingga hampir 2.000 senyawa kimia dalam uap beberapa merek vape, termasuk zat yang tidak tercantum pada label. Banyak di antaranya adalah volatile organic compounds (VOC) yang efek jangka panjangnya belum dipahami sepenuhnya.
Artinya, bukan hanya satu atau dua zat berbahaya yang perlu diwaspadai. Vape membawa “koktail kimia” kompleks yang masih terus diteliti, dan sebagian besar bahan tersebut belum memiliki data keamanan inhalasi jangka panjang.
Pemahaman ini membantu kita melihat bahwa bahaya vape berasal bukan hanya dari nikotin, tetapi dari keseluruhan campuran zat yang ikut terhirup.
Dampak Vape terhadap Sistem Pernapasan (Paru-Paru)
Setiap kali seseorang menghirup vape, uap yang masuk ke paru-paru bukanlah sekadar “asap ringan”. Di balik sensasi halus tersebut terdapat campuran nikotin, pelarut kimia (PG/VG), perisa, dan partikel halus yang langsung bersentuhan dengan jaringan paru yang sangat sensitif. Karena itu, bahaya vape bagi sistem pernapasan terjadi sejak hirupan pertama, dan risikonya semakin bertambah seiring waktu.
Sejumlah lembaga internasional seperti Centers for Disease Control and Prevention, American Lung Association, dan Johns Hopkins Medicine telah menjelaskan bagaimana aerosol vape dapat memicu iritasi, peradangan, hingga penyakit paru serius. Kemenkes RI juga menegaskan bahwa rokok elektrik bukan pilihan aman bagi paru, terutama bila digunakan jangka panjang.
1. Iritasi dan Inflamasi Paru
a. Uap halus yang mengiritasi saluran napas
Propylene Glycol (PG) dan Vegetable Glycerin (VG) adalah dua pelarut utama dalam cairan vape. Meskipun aman jika dikonsumsi sebagai aditif makanan, keduanya bersifat iritan ketika dipanaskan dan dihirup secara berulang.
Dampaknya terhadap paru:
- Batuk kering atau berdahak
- Tenggorokan perih atau panas setelah vaping
- Sesak napas saat aktivitas
- Rasa tidak nyaman atau berat di dada
Berbagai studi menunjukkan bahwa inhalasi PG/VG dapat meningkatkan tanda-tanda inflamasi saluran napas, bahkan pada pengguna tanpa riwayat penyakit paru sebelumnya. Temuan ini konsisten dengan laporan Kemenkes RI yang menyebutkan bahwa rokok elektrik dapat mengganggu fungsi paru bila digunakan terus-menerus.
b. Meningkatkan risiko bronkitis kronis
Bronkitis kronis terjadi ketika saluran napas besar (bronkus) mengalami peradangan menetap. Beberapa penelitian kohort yang menilai pengguna e-cigarette—terutama remaja dan dewasa muda—menemukan peningkatan gejala:
- Batuk berdahak yang berulang
- Mengi
- Sesak napas yang tidak membaik
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia juga menegaskan bahwa paparan aerosol vape dapat memperburuk kondisi pada penderita asma, bronkitis, atau penyakit paru lainnya. Bahaya vape menjadi lebih signifikan pada orang yang sudah memiliki riwayat gangguan pernapasan karena peradangan dapat berlangsung lebih cepat dan lebih berat.
2. Risiko Penyakit Paru Serius
Jika paparan berlanjut, vape tidak hanya menyebabkan iritasi ringan. Beberapa penyakit paru serius telah dikaitkan dengan penggunaan rokok elektrik.
a. “Popcorn lung” (bronchiolitis obliterans) akibat diacetyl
Bronchiolitis obliterans adalah penyakit langka namun sangat serius yang merusak bronkiolus (saluran napas terkecil). Kondisi ini awalnya banyak ditemukan pada pekerja pabrik popcorn yang terpapar diacetyl, yaitu bahan perisa dengan aroma mentega.
Gejala yang dapat muncul:
- Batuk kering menetap
- Sesak napas progresif
- Mengi
- Penurunan kapasitas paru secara bertahap
American Lung Association dan beberapa penelitian toksikologi menemukan bahwa diacetyl atau senyawa serupa terdeteksi dalam sebagian produk vape beraroma manis/krim. Karena itu, risiko ini tidak bisa diabaikan meskipun tidak semua produk menggunakan diacetyl.
b. Pneumonia kimia akibat PG/VG dan aditif lain
Selain diacetyl, paparan aerosol dari PG/VG dan aditif lain dapat memicu bentuk pneumonia tertentu:
- Pneumonia kimia, yaitu peradangan paru akibat inhalasi zat iritan
- Organizing pneumonia, yang menyebabkan jaringan paru terisi sel inflamasi
- Lipoid pneumonia, jika cairan yang terhirup mengandung minyak tertentu
Sejumlah laporan kasus dalam konteks EVALI (E-cigarette or Vaping-associated Lung Injury) menggambarkan pasien mengalami sesak napas hebat, batuk berat, hingga penurunan saturasi oksigen. Kondisi ini dapat berkembang cepat dan memerlukan perawatan intensif.
c. Risiko PPOK dan kerusakan jaringan paru pada penggunaan rutin
PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) umumnya dikaitkan dengan merokok tembakau, tetapi bukti mengenai vape terus meningkat.
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pengguna e-cigarette memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami:
- Penurunan fungsi paru
- Bronkitis kronis berulang
- Gejala mirip PPOK pada paparan jangka panjang
Kemenkes RI juga menyebutkan bahwa penggunaan rokok elektrik secara rutin dapat menyebabkan inflamasi yang berpotensi berkembang menjadi penyakit pernapasan kronis.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Paru-paru bekerja tanpa henti seumur hidup. Ketika Anda menghirup uap vape setiap hari, Anda memasukkan campuran zat iritan dan bahan kimia yang dapat merusak jaringan paru secara perlahan. Dampak ini tidak selalu muncul dalam hitungan minggu—tetapi ketika gejalanya tiba, kerusakannya bisa bersifat permanen.
Dampak Vape terhadap Jantung & Pembuluh Darah (Kardiovaskular)
Ketika membahas bahaya vape, perhatian publik sering tertuju pada paru-paru. Namun, jantung dan pembuluh darah sebenarnya termasuk organ yang paling cepat terkena dampaknya. Nikotin, partikel ultrahalus, karbonil, dan logam berat dalam aerosol vape langsung memengaruhi tekanan darah, detak jantung, serta fungsi endotel yang berperan besar dalam menjaga kesehatan pembuluh darah.
Sejumlah studi dari American Heart Association (AHA), Cleveland Clinic, dan Johns Hopkins Medicine menunjukkan bahwa vaping bukanlah alternatif “ramah jantung”. Bahkan, pola riset terbaru konsisten mengarah pada risiko kardiovaskular yang semakin menguat.
1. Efek Akut Vape pada Sistem Kardiovaskular
a. Nikotin: memicu lonjakan tekanan darah dan denyut jantung
Nikotin dalam vape tetap merupakan zat stimulan yang berdampak langsung pada sistem saraf simpatis. Begitu diserap ke dalam aliran darah, nikotin dapat:
- Menaikkan tekanan darah dalam hitungan menit
- Mempercepat detak jantung (palpitasi)
- Menambah beban kerja jantung, membuatnya memompa lebih keras
- Memicu pelepasan adrenalin, yang memperberat respons stres tubuh
Penelitian-penelitian akut yang dikaji oleh American Heart Association menunjukkan bahwa hanya satu sesi vaping sudah dapat meningkatkan kekakuan arteri serta mengubah dinamika aliran darah — sebuah tanda awal gangguan fungsi vaskular.
b. Penyempitan pembuluh darah & disfungsi endotel
Lapisan endotel pada pembuluh darah berfungsi seperti “sensor cerdas” yang mengatur pelebaran, penyempitan, dan aliran darah ke organ penting, termasuk jantung. Aerosol vape mengandung oksidan, nikotin, dan partikel halus yang dapat:
- Menyebabkan stres oksidatif
- Memicu inflamasi pembuluh darah
- Mengurangi kemampuan pembuluh darah untuk melebar
- Meningkatkan kekakuan arteri
Dengan kata lain, vape dapat mengganggu fondasi utama kesehatan kardiovaskular. Dampak ini semakin berbahaya bagi orang dengan hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau faktor risiko lain.
2. Penemuan Riset Terbaru tentang Vape & Kesehatan Jantung
Meskipun bukti kausal mutlak masih berkembang, temuan riset dari berbagai negara menunjukkan arah yang konsisten merugikan. Berikut ringkasan studi yang relevan dan penting bagi konteks Indonesia.
a. Meta-analisis 2025 (Indonesia): peningkatan risiko serangan jantung
Sebuah meta-analisis tahun 2025 yang dipublikasikan dalam jurnal kedokteran di Indonesia menemukan bahwa:
- Pengguna vape eksklusif memiliki peningkatan risiko signifikan terhadap infark miokard, dengan hazard ratio sekitar 1,6 (≈ 66% peningkatan risiko relatif).
- Peneliti mencatat adanya perubahan hemodinamik akut — seperti peningkatan tekanan darah dan kekakuan arteri — yang dapat mempercepat proses penyakit jantung.
Bersifat associative, tetapi temuan ini menguatkan kekhawatiran bahwa bahaya vape terhadap jantung nyata dan patut diperhatikan.
b. Studi Johns Hopkins Medicine 2025 (249.000 peserta): hipertensi & implikasi vaskular
Analisis dari Johns Hopkins Medicine yang melibatkan 249.000 peserta menunjukkan:
- Pengguna vape eksklusif memiliki risiko 39% lebih tinggi mengalami hipertensi.
- Pengguna vape secara keseluruhan lebih rentan pada PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), yang pada gilirannya meningkatkan beban kardiovaskular.
- Para peneliti menekankan adanya implikasi vaskular berupa arteri lebih kaku dan inflamasi berulang.
Hipertensi adalah “pembunuh diam-diam” yang menjadi pintu masuk menuju stroke, gagal jantung, dan penyakit jantung koroner.
c. Review ilmiah 2025 (Springer): gangguan endotel & elastisitas arteri
Tinjauan ilmiah dalam Cardiovascular Toxicology (2025) menyimpulkan bahwa:
- Aerosol vape dapat menurunkan fungsi endotel, elemen kunci yang menjaga elastisitas pembuluh darah.
- Terdapat peningkatan stres oksidatif dan reaksi inflamasi, bahkan setelah paparan jangka pendek.
- Bukti klinis jangka panjang menunjukkan tren peningkatan risiko aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.
Temuan ini menambah bukti bahwa dampak vape tidak berhenti pada efek sesaat, melainkan membentuk proses biologis yang merugikan dalam jangka panjang.
d. Tinjauan 2024 (Universitas Airlangga): “keluaran kardiovaskular yang tidak menguntungkan”
Sebuah tinjauan pustaka dari Universitas Airlangga tahun 2024 menyimpulkan bahwa:
- Penggunaan vape dan shisha jangka panjang berkaitan dengan inflamasi vaskular, peningkatan stres oksidatif, dan gangguan endotel.
- Efek gabungan ini berdampak pada keluaran kardiovaskular yang tidak menguntungkan, termasuk peningkatan risiko penyakit jantung.
Studi ini relevan untuk Indonesia, mengingat tren penggunaan vape dan shisha meningkat di kalangan anak muda.
c. Studi Cleveland Clinic 2024: risiko gagal jantung & serangan jantung meningkat
Penelitian yang disorot Cleveland Clinic pada 2024 menemukan bahwa:
- Pengguna vape memiliki risiko lebih tinggi untuk gagal jantung dibanding non-pengguna.
- Analisis yang diterbitkan di Journal of the American Heart Association (JAHA) menunjukkan bahwa pengguna vape memiliki risiko 34% lebih tinggi mengalami serangan jantung, terutama pada pengguna ganda (vape + rokok konvensional).
- Kandungan nikotin, logam berat (timbal, kadmium), dan oksidan dalam aerosol vape dinilai berperan dalam proses kerusakan vaskular.
Data ini memperkuat pesan penting bagi pembaca: beralih ke vape bukan berarti mengurangi risiko jantung — bahkan bisa menambah risiko, terutama bila kebiasaan merokok belum dihentikan.
3. Benang Merah: Inflamasi → Disfungsi Endotel → Risiko Jantung Meningkat
Jika rangkaian riset disatukan, pola yang muncul semakin jelas:
- Efek akut
- Nikotin meningkatkan detak jantung & tekanan darah.
- Pembuluh darah menjadi kaku dan kurang mampu melebar.
- Efek berulang
- Stres oksidatif dan inflamasi terus terjadi.
- Lapisan endotel semakin terganggu fungsinya.
- Efek jangka panjang
- Meningkatnya risiko aterosklerosis, hipertensi, gagal jantung, dan serangan jantung.
- Pengguna ganda menghadapi risiko paling tinggi.
Dengan demikian, bahaya vape pada sistem kardiovaskular bukan hanya perkiraan — tetapi gambaran yang konsisten muncul di berbagai penelitian kredibel.
Apa Artinya bagi Anda?
Jika Anda memiliki faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, atau riwayat keluarga penyakit jantung, vaping berarti meningkatkan tekanan pada jantung dan pembuluh darah setiap hari, bahkan saat gejala belum terasa.
Bagi remaja dan dewasa muda, paparan nikotin dan zat aerosol sejak dini justru membuka jalan terjadinya kerusakan vaskular lebih cepat. Dan inilah yang menghubungkan bagian ini ke topik berikutnya: risiko vape bagi remaja dan anak muda jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.
Bahaya Vape untuk Remaja dan Anak Muda
Penggunaan vape di kalangan remaja dan anak muda meningkat dengan cepat di Indonesia. Berbagai survei Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kelompok usia 15–19 tahun kini menjadi pengguna terbesar rokok elektrik. Fenomena ini perlu diwaspadai karena bahaya vape pada remaja lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa. Pada masa pubertas hingga awal 20-an, tubuh dan otak masih berkembang sehingga paparan nikotin serta ribuan bahan kimia dari uap vape dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada kesehatan fisik maupun mental.
Sebagian anak muda menganggap vape aman karena bentuknya menyerupai gadget, menghasilkan aroma manis, dan tidak mengeluarkan asap pekat seperti rokok. Namun, faktanya, penelitian global telah berulang kali menegaskan bahwa rokok elektrik membawa risiko serius terhadap perkembangan otak, perilaku, serta kemungkinan kecanduan nikotin di usia dini.
1. Gangguan Perkembangan Otak Remaja
a. Nikotin dan perkembangan korteks prefrontal
Otak remaja masih mengalami proses pematangan, terutama di bagian korteks prefrontal, yaitu pusat pengendalian diri, pengambilan keputusan, fokus, dan penilaian risiko. Paparan nikotin dari vape dapat mengganggu proses penting ini.
WHO, CDC, dan sejumlah riset neurobiologi menunjukkan bahwa nikotin:
- Mengubah cara komunikasi antar-sel saraf di area otak yang mengatur perilaku.
- Mengganggu fungsi eksekutif seperti fokus, pengendalian impuls, dan kemampuan merencanakan.
- Meningkatkan kerentanan terhadap kecanduan zat lain di masa depan.
Dengan kata lain, nikotin tidak hanya memengaruhi sensasi “tenang” sesaat, tetapi juga mengubah cara otak remaja berkembang dan berfungsi.
b. Dampak pada emosi, kecemasan, dan kemampuan belajar
Selain memengaruhi struktur otak, penggunaan vape pada remaja berkaitan dengan perubahan fungsi emosional dan kognitif, termasuk:
- Sulit fokus saat belajar.
- Gangguan memori jangka pendek.
- Risiko lebih tinggi mengalami kecemasan atau depresi.
- Gangguan tidur dan emosi yang lebih mudah tidak stabil.
IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) juga menegaskan bahwa nikotin dari rokok elektrik dapat mengganggu tumbuh kembang otak dan meningkatkan risiko masalah perilaku pada anak dan remaja. Pesan pentingnya sederhana: otak remaja membutuhkan lingkungan bebas nikotin untuk berkembang secara optimal.
2. Efek “Gateway”: Dari Vape ke Rokok dan Zat Adiktif Lain
a. Risiko beralih dari vape ke rokok konvensional
Salah satu kekhawatiran utama ahli kesehatan di dunia adalah bahwa vape justru menjadi “gerbang awal” (gateway) menuju penggunaan rokok konvensional.
Berbagai tinjauan ilmiah menunjukkan:
- Remaja pengguna vape memiliki risiko lebih tinggi untuk mulai merokok tembakau.
- Sebuah umbrella review internasional (2025) menunjukkan bahwa pengguna vape remaja berisiko hampir tiga kali lipat menjadi perokok aktif di masa depan.
- Beberapa studi juga menemukan hubungan antara vaping dengan peningkatan penggunaan alkohol dan ganja.
Kemenkes RI turut menekankan pola yang sama di Indonesia: banyak remaja yang memulai dari vape akhirnya beralih ke rokok konvensional.
b. Mengapa vape terasa “lebih aman” bagi remaja?
Ada beberapa faktor yang membuat anak muda mudah tertarik pada vape:
- Rasa aman palsu. Desain modern, wangi buah atau permen, dan ketiadaan bau rokok membuat vape terlihat “lebih bersih”, sehingga remaja mengira bahwa risikonya rendah—padahal tidak.
- Varian rasa yang menarik. Rasa manis dan tidak menyengat membuat vape lebih mudah diterima, terutama bagi mereka yang belum pernah merokok. Studi perilaku menunjukkan varian rasa meningkatkan kemungkinan remaja mencoba vape dan menggunakannya lebih sering.
- Pengaruh pergaulan dan media sosial. Vape kerap dipromosikan sebagai bagian dari gaya hidup, membuatnya tampak keren atau modern. Tekanan teman sebaya sering membuat remaja sulit menolak tawaran untuk mencoba.
Di beberapa kasus di Indonesia, ditemukan juga vape yang dicampur zat lain seperti obat keras atau narkotika ringan—menambah lapisan risiko yang jauh lebih berbahaya bagi anak muda.
3. Mengapa Remaja & Orang Tua Harus Waspada?
Jika ditinjau secara menyeluruh, bahaya vape untuk remaja dan anak muda mencakup:
- Gangguan perkembangan otak, yang dapat memengaruhi prestasi belajar, perilaku, dan kesehatan mental.
- Ketergantungan nikotin jangka panjang, yang membuat berhenti menjadi lebih sulit di masa dewasa.
- Risiko meningkatnya penggunaan rokok tembakau dan zat adiktif lain.
Karena itu, percakapan antara orang tua dan remaja sangat penting. Pendekatan yang empatik—bukan menghakimi—sering lebih efektif. Peran sekolah, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial juga krusial untuk menciptakan ruang aman bebas vape bagi generasi muda.
Sebagai langkah berikutnya, memahami bagaimana bahaya vape memengaruhi kelompok rentan lainnya—seperti ibu hamil—akan membantu kita melihat gambaran yang lebih lengkap dari dampak rokok elektrik terhadap kesehatan masyarakat.
Efek Bahaya Vape pada Kehamilan
Penggunaan vape saat hamil sering dianggap “lebih aman” dibanding rokok biasa. Namun, bukti ilmiah dari lembaga seperti Centers for Disease Control and Prevention, American College of Obstetricians and Gynecologists, dan MotherToBaby menunjukkan bahwa bahaya vape tetap signifikan bagi ibu dan janin. Hal ini karena nikotin, logam berat, dan bahan kimia lain dalam uap vape dapat menembus plasenta dan memengaruhi perkembangan bayi sejak trimester awal.
1. Nikotin Menghambat Aliran Oksigen ke Janin
Nikotin adalah komponen utama sebagian besar cairan vape. Ketika ibu menghirup vape, nikotin cepat masuk ke aliran darah dan langsung mencapai plasenta, lalu ikut masuk ke sirkulasi janin.
- Menyempitkan pembuluh darah rahim dan plasenta (vasokonstriksi) sehingga aliran oksigen dan nutrisi menurun.
- Mengganggu fungsi plasenta, yang berfungsi sebagai saluran utama antara ibu dan janin.
- Meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan janin (IUGR) karena bayi tidak menerima oksigen optimal.
Centers for Disease Control (CDC) menjelaskan bahwa paparan nikotin pada kehamilan dapat berdampak langsung pada perkembangan otak dan paru-paru bayi—bahkan pada paparan dosis rendah.
2. Risiko Kelahiran Prematur, Berat Badan Lahir Rendah, dan Gangguan Perkembangan Otak
Berbagai penelitian menemukan pola konsisten terkait bahaya vape selama kehamilan: semakin sering paparan nikotin dan bahan kimia vape, semakin tinggi risiko komplikasi.
a. Kelahiran prematur & berat badan lahir rendah
Tinjauan studi yang dipublikasikan di jurnal obstetri dan kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa ibu yang menggunakan e-cigarette selama kehamilan memiliki risiko lebih tinggi mengalami:
- Kelahiran prematur
- Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
- Pertumbuhan janin terhambat (SGA)
Vape tidak aman sebagai alternatif rokok untuk ibu hamil, dan tetap dikaitkan dengan hasil kehamilan yang merugikan.
b. Gangguan perkembangan otak janin
Nikotin dapat memengaruhi perkembangan korteks prefrontal, area otak yang mengatur kemampuan belajar, perhatian, regulasi emosi, dan pengambilan keputusan.
Studi terkait paparan nikotin prenatal menunjukkan peningkatan risiko:
- Gangguan perhatian & hiperaktivitas
- Masalah perilaku
- Kesulitan belajar dan memori pada masa kanak-kanak dan remaja
ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists) menyatakan bahwa tidak ada tingkat paparan nikotin yang aman selama kehamilan.
3. Bahaya Vape bagi Ibu Menyusui
Bahaya vape tidak berhenti setelah proses persalinan. Saat ibu menyusui, nikotin tetap dapat memengaruhi bayi melalui:
- Perpindahan nikotin ke ASI, yang dapat mengganggu pola tidur bayi.
- Menurunnya hormon prolaktin, sehingga menurunkan produksi ASI.
- Paparan “secondhand aerosol” dari uap vape yang mengandung nikotin, logam berat, dan partikel kimia.
American Academy of Pediatrics menekankan bahwa nikotin—termasuk dari vape—tetap dapat membahayakan bayi saat menyusui.
4. Langkah Realistis untuk Ibu Hamil dan Menyusui
Berhenti total dari nikotin adalah opsi paling aman bagi ibu dan bayi. Namun proses berhenti tidak selalu mudah, terutama bila vape sudah menjadi kebiasaan.
Beberapa langkah yang dapat membantu:
- Berkonsultasi dengan dokter kandungan atau dokter jantung, terutama bila terdapat penyakit penyerta.
- Mengikuti program berhenti merokok atau konseling perilaku.
- Meminta dukungan pasangan/keluarga agar rumah bebas asap rokok dan uap vape.
- Bertahap mengurangi penggunaan sambil mencari strategi pengganti yang aman.
Berhenti di titik mana pun selama kehamilan selalu memberi manfaat, dengan keuntungan terbesar ketika berhenti sedini mungkin.
Risiko Paparan Vape pada Orang Sekitar
Ketika membahas bahaya vape, penting untuk memahami bahwa risiko tidak hanya dialami oleh pengguna langsung. Uap yang dilepaskan—sering disebut secondhand vapor—tetap membawa nikotin, logam berat, dan partikel kimia yang dapat memengaruhi kesehatan orang di sekitarnya. WHO menegaskan bahwa aerosol rokok elektrik bukan hanya uap air, tetapi mengandung zat berbahaya yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular pada non-pengguna.
1. Kandungan Berbahaya dalam “Secondhand Vapor”
Berbeda dari anggapan umum, uap vape bukan sekadar asap tipis yang cepat hilang. Bila terhirup oleh orang sekitar, uap tersebut dapat membawa:
- Nikotin yang mudah diserap tubuh, termasuk oleh anak dan bayi.
- Logam berat (nikel, timbal, timah, kromium) yang berasal dari coil pemanas.
- Aldehida berbahaya seperti formaldehida dan asetaldehida.
- Partikel halus (PM2.5) yang mampu masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru.
- Senyawa organik volatil yang berpotensi memicu iritasi dan inflamasi.
Di samping itu, penelitian biomonitoring menunjukkan bahwa anggota keluarga yang tidak merokok namun tinggal bersama pengguna vape dapat memiliki peningkatan kadar nikotin dan logam berat dalam tubuh mereka. Temuan ini memperkuat bahwa paparan aerosol vape pasif bukanlah hal sepele.
2. Dampak pada Anak-Anak, Bayi, dan Lansia
Kelompok rentan seperti anak kecil, bayi, ibu hamil, dan lansia jauh lebih sensitif terhadap paparan uap vape.
a. Anak-anak dan bayi: saluran napas lebih mudah teriritasi
- Saluran napas bayi dan anak lebih sempit, sehingga partikel halus dari uap vape lebih mudah memicu batuk, mengi, hingga serangan asma.
- Sistem detoksifikasi tubuh mereka belum matang, membuat paparan kimia berbahaya lebih sulit ditangani.
- Beberapa studi menunjukkan peningkatan gejala pernapasan pada anak-anak yang hidup serumah dengan pengguna vape.
b. Ibu hamil: risiko pada perkembangan janin
Nikotin dan partikel dari uap vape yang terhirup ibu hamil dapat memengaruhi aliran oksigen ke janin dan meningkatkan risiko gangguan perkembangan.
c. Lansia: memperburuk penyakit jantung dan paru
Lansia dengan kondisi seperti PPOK, hipertensi, atau penyakit jantung lebih cepat mengalami sesak, batuk, dan perburukan gejala ketika terpapar aerosol vape secara berulang, walaupun dalam kadar rendah.
Selain itu, paparan vape dapat mengiritasi saluran napas dan memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada.
3. Iritasi Mata, Hidung, dan Paru: Dampak Nyata Vape Pasif
Faktanya, banyak keluhan kesehatan akibat vape pasif muncul dalam hitungan menit setelah paparan.
Beberapa efek yang sering dilaporkan:
- Mata perih dan berair, terutama pada anak dan orang dengan alergi.
- Hidung dan tenggorokan kering atau gatal akibat zat iritan seperti propylene glycol.
- Batuk berulang atau sesak napas, terutama pada penderita asma dan PPOK.
- Sensasi sesak dada akibat partikel halus yang masuk ke paru-paru.
American Lung Association dan American Cancer Society menyatakan bahwa aerosol rokok elektrik dapat mengandung nikotin, logam berat, dan partikel kimia lain yang cukup untuk memicu iritasi saluran napas, meski kadarnya lebih rendah dibanding asap rokok. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan vape pasif tetap layak diwaspadai sebagai bagian dari bahaya vape bagi kesehatan keluarga.
4. Cara Mengurangi Risiko Paparan Vape pada Orang Sekitar
Untuk melindungi keluarga dan orang-orang terdekat, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:
- Jadikan rumah, mobil, dan ruang keluarga sebagai area bebas vape dan bebas rokok.
- Hindari vaping di ruang tertutup atau di sekitar anak, bayi, ibu hamil, dan lansia.
- Jika sedang dalam proses berhenti, usahakan menggunakan vape hanya di area luar ruangan dan jauh dari orang lain.
- Pertimbangkan konsultasi ke dokter atau klinik berhenti merokok untuk mendapatkan dukungan profesional.
Dengan memahami bahwa uap vape pasif membawa risiko nyata bagi orang di sekitar, kita bisa mengambil langkah yang lebih bijak untuk melindungi kesehatan semua anggota keluarga. Bagian berikutnya akan membantu Anda memahami perbandingan lengkap antara vape dan rokok konvensional, sehingga Anda dapat membuat keputusan yang lebih menyeluruh.
Vape vs Rokok Biasa: Mana Lebih Berbahaya?
Banyak orang bertanya apakah bahaya vape lebih ringan dibanding rokok biasa. Pertanyaannya wajar, terutama karena vape sering dipasarkan sebagai “alternatif yang lebih aman”. Namun, ketika dilihat dari sudut pandang kesehatan jantung, paru-paru, perkembangan otak remaja, dan risiko jangka panjang, keduanya memiliki bahaya serius dengan mekanisme yang berbeda.
Di satu sisi, rokok mengandung tar, karbon monoksida, dan lebih dari 7.000 bahan kimia beracun hasil pembakaran. Di sisi lain, vape menghasilkan aerosol yang membawa nikotin, formaldehida, senyawa karbonil, serta logam berat seperti nikel dan timbal. Karena itu, fokusnya bukan lagi “mana yang lebih aman”, tetapi bagaimana keduanya tetap membawa risiko besar dan tidak boleh dianggap aman—terutama bagi remaja, ibu hamil, dan orang yang sebelumnya tidak merokok.
Agar lebih mudah memahami perbedaannya, berikut perbandingan lengkap antara vape dan rokok konvensional.
Tabel Perbandingan Bahaya Vape vs Rokok Biasa
| Aspek Utama | Rokok Biasa (Konvensional) | Vape / Rokok Elektrik | Implikasi Kesehatan |
|---|---|---|---|
| Sumber Nikotin | Nikotin dari pembakaran daun tembakau | Nikotin dari e-liquid yang diuapkan | Keduanya memicu kecanduan, meningkatkan denyut jantung & tekanan darah. |
| Cara Kerja | Pembakaran (combustion) → menghasilkan asap penuh karsinogen | Penguapan (vaporization) → menghasilkan aerosol berpartikel halus | Nikotin + panas + partikel halus = risiko kardiovaskular dan paru. |
| Zat Berbahaya Utama | Tar, karbon monoksida, benzena, PAH, karsinogen kelas 1 IARC | Formaldehida, asetaldehida, karbonil, logam berat (nikel, kromium, timbal) | Vape tidak menghasilkan tar, tetapi menghasilkan bahan toksik lain yang dapat merusak sel. |
| Tar & Karsinogen | Sangat tinggi | Tidak ada tar, tapi menghasilkan aldehida toksik | Rokok = kanker paru & PPOK; vape = stres oksidatif & inflamasi. |
| Efek Jantung | Risiko besar serangan jantung & stroke | Kejang pembuluh darah, gangguan endotel, tekanan darah meningkat | Bukti jangka panjang vape berkembang, tetapi arah riset menunjukkan risiko nyata. |
| Risiko pada Remaja | Sangat adiktif | Tidak aman untuk remaja (WHO, CDC) | Nikotin mengganggu perkembangan otak & meningkatkan risiko kecanduan zat lain. |
| Kehamilan | Risiko BBLR, prematur, abortus | Nikotin melewati plasenta & ASI | Tidak ada bentuk nikotin yang aman saat hamil & menyusui. |
| Potensi Berhenti Merokok | Tidak bisa | Hanya efektif jika pindah total (bukan ganda) | Masih tidak direkomendasikan untuk remaja & non-perokok. |
Kesimpulan: Dua-duanya Berbahaya, Hanya Berbeda Cara Kerjanya
Jika menilai sekilas, vape mungkin tampak “lebih ringan” karena tidak menghasilkan tar. Namun, ketika dilihat dengan lebih mendalam, bahaya vape tetap signifikan—mulai dari paparan nikotin tinggi, kerusakan endotel, hingga risiko inflamasi kronis akibat logam berat dan senyawa karbonil.
Rokok membahayakan karena pembakaran. Vape membahayakan karena aerosol toksik.
Dan keduanya memengaruhi jantung, paru, dan perkembangan otak.
Karena itu, pertanyaan yang tepat bukan ‘mana yang lebih aman’, tetapi bagaimana menghentikan keduanya demi kesehatan jangka panjang.
Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas “Tips dan Langkah untuk Berhenti Nge-Vape” lengkap dengan panduan bertahap dan dukungan medis yang membantu banyak orang berhasil berhenti.
Tips dan Langkah untuk Berhenti Nge-Vape
Berhenti dari kebiasaan nge-vape bisa terasa menantang, terutama bila nikotin sudah memengaruhi rutinitas sehari-hari. Namun, memahami bahaya vape dan menyiapkan strategi yang tepat dapat membantu Anda keluar dari lingkaran ketergantungan dengan cara yang lebih terarah dan realistis. Selain itu, banyak penelitian internasional menunjukkan bahwa berhenti nikotin—baik rokok konvensional maupun vape—memberikan manfaat cepat bagi kesehatan paru dan jantung.
Untuk membantu Anda memulai perjalanan berhenti vape, berikut langkah-langkah praktis yang mudah diikuti.
1. Temukan Motivasi yang Benar-Benar Bermakna
Pertama, kenali alasan pribadi Anda berhenti. Motivasi yang kuat akan menjadi jangkar saat dorongan untuk nge-vape muncul kembali.
Beberapa alasan utama yang sering mendorong seseorang berhenti dari bahaya vape:
- Kesehatan: napas lebih cepat ngos-ngosan, mudah batuk, atau mulai khawatir soal risiko penyakit jantung dan paru.
- Keluarga: tidak ingin orang tersayang—anak, pasangan, orang tua—terpapar uap nikotin dan logam berat.
- Finansial: pengeluaran bulanan liquid, pod, dan device sebenarnya bisa dialihkan untuk kebutuhan kesehatan atau tabungan keluarga.
2. Buat Rencana Berhenti yang Jelas dan Terukur
Setelah memahami motivasi, susun rencana berhenti dengan struktur yang realistis. Banyak panduan medis menyarankan quit plan dengan tahapan yang terukur.
Langkah yang dapat Anda lakukan:
- Tentukan tanggal berhenti (quit date), misalnya 2–4 minggu dari hari ini.
- Pilih metode berhenti:
- Berhenti total di Hari H, atau
- Bertahap → kurangi frekuensi nge-vape, jumlah hembusan per sesi, dan kadar nikotin secara sistematis.
- Identifikasi pemicu craving seperti stres, nongkrong, lembur, atau bosan.
- Siapkan pengalihan sehat: minum air, jalan kecil, deep breathing, atau mengganti suasana.
Dengan rencana yang terjadwal, proses berhenti terasa lebih terukur dan tidak membingungkan.
3. Pertimbangkan Konseling & Terapi Bantu Nikotin (Jika Direkomendasikan Dokter)
Sebagian besar pengguna vape mengalami ketergantungan nikotin yang setara dengan rokok biasa. Karena itu, pendekatan berhenti yang efektif sering kali menggabungkan:
- Konseling perilaku
- Dukungan keluarga & lingkungan
- Terapi pengganti nikotin (Nicotine Replacement Therapy / NRT) seperti patch, gum, atau lozenges (hanya berdasarkan anjuran dokter)
Penelitian dari CDC dan American Cancer Society menunjukkan bahwa kombinasi konseling dan NRT meningkatkan peluang sukses berhenti dibandingkan hanya mengandalkan kemauan sendiri.
Jika Anda memiliki penyakit jantung, sedang hamil, atau memiliki riwayat asma/paru kronis—pastikan berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum memakai obat apa pun.
4. Gunakan Aplikasi Pelacak, Jurnal Harian, dan Dukungan Sosial
Beberapa strategi yang bisa Anda coba:
- Aplikasi pelacak kebiasaan / quit-vaping. Aplikasi ini membantu mencatat jumlah sesi, mengingatkan target harian, memantau progres, dan memberi motivasi.
- Jurnal kebiasaan. Catat waktu craving, emosi yang muncul, dan bagaimana Anda berhasil menahan diri.
- Dukungan keluarga/teman. Beri tahu mereka bahwa Anda sedang berhenti. Minta bantuan untuk tidak menawarkan vape atau membuat situasi bebas asap/uap saat Anda ada di dekat mereka.
Langkah sederhana ini memperkuat disiplin dan membantu Anda merasa tidak berjuang sendirian.
5. Fokus pada Manfaat Sejak Hari Pertama
Selain memahami bahaya vape, penting juga untuk mengingat manfaat berhenti. Menurut berbagai penelitian kesehatan:
- Napas terasa lebih lega dalam beberapa minggu.
- Tekanan darah dan detak jantung lebih stabil karena tidak terus distimulasi nikotin.
- Tidur lebih nyenyak tanpa efek stimulasi nikotin di malam hari.
- Kualitas hidup meningkat—lebih segar, lebih energik, dan tidak lagi terikat pada “kebutuhan” nge-vape.
Mengamati perubahan ini dapat memperkuat motivasi setiap hari.
Jika Anda sedang berhenti atau baru mulai mengurangi penggunaan, penting untuk memahami kapan Anda perlu bertemu dokter—terutama bila merasakan gejala tertentu pada paru atau jantung.
Selanjutnya, mari kita bahas kapan harus periksa ke dokter agar perjalanan berhenti vape tetap aman dan terpantau dengan baik.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Mengenali bahaya vape bukan hanya soal memahami risikonya, tetapi juga peka terhadap sinyal tubuh. Jika Anda mulai merasakan keluhan pernapasan atau jantung setelah menggunakan vape, jangan menunggu sampai gejalanya memburuk. Pemeriksaan lebih awal membantu dokter menilai kondisi paru dan jantung, serta menentukan langkah penanganan yang paling aman.
1. Gejala Pernapasan yang Tidak Boleh Diabaikan
Jika Anda menggunakan vape dan mengalami keluhan berikut, segera temui dokter atau fasilitas kesehatan terdekat:
- Batuk menetap lebih dari 2–4 minggu
- Sesak napas, terasa tercekik, atau cepat ngos-ngosan
- Nyeri dada, terutama saat menarik napas dalam
- Mengi (napas “berbunyi”) atau keluhan mirip asma
Menurut laporan CDC tentang E-cigarette or Vaping-Associated Lung Injury (EVALI), kerusakan paru akibat vape dapat berkembang cepat dan menyebabkan penurunan kadar oksigen hingga komplikasi serius.
Selain itu, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dan berbagai organisasi kesehatan menegaskan bahwa paparan uap vape dapat memicu radang saluran napas dan memperparah kondisi paru yang sudah rentan.
2. Tanda-Tanda Gangguan Jantung yang Perlu Diwaspadai
Yang sering tidak disadari, bahaya vape tidak hanya mengenai paru-paru—jantung dan pembuluh darah juga terpengaruh. Nikotin dapat menaikkan tekanan darah, mempercepat detak jantung, dan mengganggu stabilitas irama jantung.
Segera periksa ke dokter bila Anda mengalami:
- Jantung berdebar (palpitasi) atau irama terasa tidak teratur
- Tekanan darah tiba-tiba tinggi atau tidak stabil
- Pusing, berkunang-kunang, atau hampir pingsan
- Keluhan jantung muncul setelah mulai menggunakan vape
Nikotin, termasuk yang berasal dari rokok elektrik, dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi pembuluh darah dan serangan jantung.
Dengan kata lain, keluhan pernapasan bersamaan dengan keluhan jantung merupakan tanda bahaya vape yang perlu dievaluasi secepat mungkin.
3. Remaja & Ibu Hamil: Konsultasi Lebih Awal Sangat Dianjurkan
a. Pengguna vape di usia remaja
Otak remaja yang masih berkembang lebih rentan terhadap kecanduan nikotin. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan vape pada remaja berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan konsentrasi, kecemasan, dan masalah pernapasan.
Remaja perlu diajak konsultasi bila:
- Kesulitan berhenti
- Perilaku berubah, lebih mudah gelisah atau emosional
- Ada gejala batuk, sesak, atau jantung berdebar
b. Ibu hamil atau menyusui
CDC dan Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa tidak ada level aman nikotin pada kehamilan. Vape dapat mengganggu aliran oksigen ke janin dan memengaruhi perkembangan otak bayi.
Segera periksa bila Anda:
- Menggunakan vape saat hamil atau sedang merencanakan kehamilan
- Menyusui dan tidak bisa berhenti
- Memiliki riwayat persalinan berisiko (prematur, BBLR, keguguran)
4. Pemeriksaan Kesehatan Jantung & Paru yang Perlu Dipertimbangkan
Jika Anda sudah lama menggunakan vape atau mulai merasakan gejala, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan berikut:
- MCU Jantung (Medical Check-Up Komprehensif): Menilai tekanan darah, kolesterol, gula darah, fungsi organ, dan risiko kardiovaskular.
- EKG (Elektrokardiogram): Memeriksa irama jantung, mendeteksi aritmia, serta melihat beban kerja jantung.
- Ekokardiografi (Echo): Menilai kekuatan pompa jantung dan fungsi katup.
- Pemeriksaan Paru: Seperti rontgen, CT-scan, atau tes fungsi paru—terutama bila ada gejala batuk kronis atau sesak.
Pemeriksaan ini membantu memastikan apakah bahaya vape sudah memengaruhi jantung atau paru Anda, dan langkah apa yang perlu diambil untuk mencegah kerusakan lebih jauh.
5. Jangan Menunda Bila Tubuh Mengirim Sinyal Bahaya
Sebagai ringkasan, segera periksa ke dokter bila Anda:
- Menggunakan vape dan mengalami batuk lama, sesak, atau nyeri dada
- Mengalami jantung berdebar, tekanan darah naik, atau sering pusing
- Remaja atau orang tua dari remaja yang menggunakan vape
- Ibu hamil/menyusui yang tidak mampu berhenti dari vape
Pada akhirnya, mendeteksi dini bahaya vape dan berdiskusi dengan dokter menunjukkan langkah keberanian, bukan kelemahan. Ini adalah keputusan penting untuk melindungi jantung, paru, dan masa depan kesehatan Anda maupun keluarga.
Pertanyaan Umum Seputar Bahaya Vape
Berikut ini beberapa pertanyaan seputar bahaya vape yang seringkali ditanyakan oleh masyarakat di Indonesia pada umumnya.
Apakah vape berbahaya bagi kesehatan?
Ya, vape berbahaya bagi kesehatan. Uapnya mengandung nikotin, zat kimia iritan, dan logam berat yang bisa mengganggu paru-paru, jantung, dan pembuluh darah. Banyak orang mengira vape hanya “uap air”, padahal riset justru menunjukkan bahwa penggunaan vape berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan, tekanan darah naik, detak jantung cepat, hingga risiko penyakit jantung dalam jangka panjang. Dengan kata lain, vape bukan pilihan aman, terutama bila digunakan rutin.
Apa saja efek samping penggunaan rokok elektrik (vape)?
Efek samping vape bisa muncul dalam jangka pendek maupun panjang. Dalam jangka pendek, pengguna sering mengeluhkan batuk, tenggorokan kering atau perih, dada terasa tidak nyaman, pusing, dan jantung berdebar. Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap nikotin, zat pelarut, dan bahan kimia dalam uap vape dapat memicu radang saluran napas, memperburuk asma atau bronkitis, meningkatkan tekanan darah, mengganggu fungsi pembuluh darah, dan pada sebagian orang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung serta penyakit paru kronis. Semakin sering dan semakin lama penggunaan, semakin besar pula risiko yang ditanggung.
Vape vs rokok: mana yang lebih berbahaya untuk tubuh?
Pertanyaan ini sering muncul, tetapi sebenarnya bukan soal mana yang “lebih aman”, karena keduanya sama-sama berbahaya dengan cara berbeda. Rokok konvensional menghasilkan asap dari proses pembakaran yang mengandung tar tinggi dan ratusan zat karsinogenik yang sudah jelas terbukti menyebabkan kanker, penyakit jantung, dan stroke. Vape memang tidak menghasilkan tar dari pembakaran, tetapi uapnya membawa nikotin dosis bervariasi, senyawa karbonil seperti formaldehida, serta logam berat dari coil yang dapat merusak paru-paru dan pembuluh darah. Jadi, fokusnya bukan memilih mana yang lebih “ringan”, melainkan menyadari bahwa mengurangi dan menghentikan keduanya adalah pilihan yang paling melindungi tubuh.
Mengapa vape menyebabkan kecanduan nikotin?
Vape menyebabkan kecanduan karena tetap mengantarkan nikotin ke otak. Nikotin bekerja sangat cepat: dalam hitungan detik setelah dihirup, zat ini mencapai otak dan merangsang pelepasan dopamin, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa senang dan “reward”. Rasa nyaman sesaat ini membuat otak belajar untuk mengulang perilaku yang sama, sehingga terbentuk pola ketergantungan. Pada remaja, otak masih berkembang sehingga lebih mudah “terkunci” pada pola kecanduan nikotin. Ditambah lagi, banyak cairan vape memiliki rasa manis atau buah yang membuat pengguna tidak merasa sedang mengonsumsi zat adiktif berbahaya.
Bagaimana vape mempengaruhi jantung dan pembuluh darah?
Vape memengaruhi jantung dan pembuluh darah melalui beberapa mekanisme. Nikotin di dalamnya dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, sehingga beban kerja jantung bertambah. Uap vape juga dapat mengganggu fungsi endotel, yaitu lapisan dalam pembuluh darah yang berperan menjaga kelenturan dan aliran darah yang sehat. Ketika endotel mengalami kerusakan dan peradangan, pembuluh darah menjadi lebih kaku dan lebih mudah terbentuk plak, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko aterosklerosis, serangan jantung, dan stroke. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa pengguna vape memiliki profil risiko kardiovaskular yang tidak jauh berbeda dengan perokok, apalagi jika masih merokok dan vaping sekaligus.
Apa saja bahaya vape untuk anak/remaja?
Bagi anak dan remaja, bahaya vape jauh lebih besar karena otak dan organ tubuh mereka masih berkembang. Nikotin dapat mengganggu perkembangan area otak yang mengatur pengambilan keputusan, kontrol emosi, dan fungsi belajar, sehingga berkaitan dengan risiko impulsivitas lebih tinggi, gangguan konsentrasi, kecemasan, dan masalah memori. Selain itu, remaja pengguna vape lebih berisiko beralih ke rokok konvensional atau mencoba zat adiktif lain karena sudah terbiasa dengan sensasi nikotin dan pola “coping” lewat zat tersebut. Dari sisi fisik, mereka juga bisa mengalami batuk, sesak, dan penurunan kapasitas olahraga lebih cepat dibanding teman sebaya yang tidak menggunakan vape.
Apakah vape aman bagi ibu hamil dan janin?
Vape tidak aman bagi ibu hamil dan janin. Nikotin dan zat kimia lain pada vape dapat mengganggu aliran oksigen dan nutrisi ke janin melalui plasenta. Kondisi ini berkaitan dengan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, kelahiran prematur, gangguan perkembangan otak, serta masalah tumbuh kembang di kemudian hari. Meski tidak ada asap seperti rokok, uap vape tetap mengandung nikotin dan bahan kimia lain yang tidak direkomendasikan sama sekali selama kehamilan. Pada ibu menyusui, nikotin juga dapat berpindah ke bayi melalui ASI. Karena itu, bila sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui, yang paling aman adalah benar-benar menghindari vape dan produk nikotin lain.
Apa kandungan berbahaya utama dalam cairan vape?
Cairan vape umumnya mengandung campuran propilen glikol dan gliserin sebagai pelarut, nikotin dengan kadar bervariasi, serta berbagai perisa (flavouring). Namun, bahaya vape tidak berhenti di situ. Saat cairan tersebut dipanaskan, dapat terbentuk senyawa lain seperti formaldehida dan acetaldehyde yang bersifat iritan dan karsinogenik. Beberapa cairan juga mengandung diacetyl, yaitu zat perisa yang dikaitkan dengan kondisi “popcorn lung” (bronchiolitis obliterans) bila terhirup berulang. Di sisi lain, logam berat seperti nikel, timbal, dan kromium bisa ikut terbawa dari coil pemanas ke dalam uap. Penelitian juga menemukan ribuan senyawa kimia dalam aerosol vape, dan banyak di antaranya belum dipahami dengan baik efek jangka panjangnya terhadap tubuh.
Bagaimana cara berhenti nge-vape dengan aman?
Berhenti nge-vape sebaiknya dimulai dengan menyadari alasan pribadi Anda: ingin jantung lebih sehat, napas lebih lega, hadir lebih lama bagi keluarga, atau menghemat biaya. Setelah itu, buat rencana yang realistis. Sebagian orang cocok dengan berhenti total di tanggal tertentu, sebagian lain lebih nyaman mengurangi frekuensi dan kadar nikotin bertahap. Dukungan keluarga, teman, atau komunitas sangat membantu, begitu juga konseling dengan dokter atau tenaga kesehatan bila Anda merasa sangat bergantung pada vape. Dalam beberapa kasus, dokter dapat mempertimbangkan terapi pengganti nikotin atau obat tertentu untuk mengurangi gejala sakau. Menggunakan aplikasi pelacak kebiasaan atau menulis jurnal harian juga bisa membantu memonitor kemajuan dan memotivasi diri. Yang penting, jangan menyerah bila sempat “kambuh”; anggap itu bagian dari proses belajar, lalu kembali ke rencana awal.
Apakah asap (uap) vape berbahaya bagi orang di sekitar (perokok pasif)?
Ya, uap vape juga dapat membahayakan orang di sekitar, terutama bayi, anak kecil, lansia, dan orang dengan penyakit jantung atau paru. Uap yang dihembuskan pengguna masih mengandung nikotin, partikel halus, dan zat kimia lain yang dapat terhirup oleh orang lain di ruangan yang sama. Paparan ini dapat memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, memperburuk gejala asma, serta membuat anak lebih sering batuk atau sesak. Pada jangka panjang, paparan berulang bukanlah hal yang sepele, apalagi bila terjadi di ruang tertutup seperti rumah atau mobil. Karena itu, sama seperti rokok, prinsip paling aman adalah tidak menggunakan vape di dekat orang lain dan melindungi lingkungan rumah dari semua bentuk asap dan uap produk nikotin.











