Pernahkah Anda merasa kaki bengkak, nyeri, atau kemerahan tanpa sebab yang jelas? Hati-hati, bisa jadi itu adalah tanda dari Trombosis Vena Dalam (DVT), kondisi serius yang sering kali tidak disadari namun berpotensi mengancam jiwa. DVT terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di pembuluh vena dalam, biasanya di kaki, dan jika tidak ditangani, dapat menyebabkan komplikasi yang fatal.
Meskipun sering dianggap sebagai masalah kesehatan yang jarang terjadi, DVT sebenarnya lebih umum daripada yang kita kira. Bahkan, kondisi ini bisa menyerang siapa saja, terutama mereka yang memiliki gaya hidup kurang aktif atau memiliki riwayat medis tertentu.
Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), DVT dan emboli paru merupakan penyakit kardiovaskular penyebab utama kematian ketiga di dunia setelah serangan jantung dan stroke. Diperkirakan, 10 juta kasus DVT terjadi setiap tahunnya secara global, dengan angka kematian yang mencapai 10% dari total kasus.
Di Indonesia, meskipun data spesifik tentang DVT masih terbatas, laporan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi penyakit kardiovaskular, termasuk DVT, terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Faktor seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok turut berkontribusi pada peningkatan risiko DVT.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Thrombosis and Haemostasis juga menyebutkan bahwa populasi Asia, termasuk Indonesia, memiliki risiko DVT yang signifikan, terutama pada kelompok usia produktif (30-50 tahun). Hal ini menegaskan pentingnya kesadaran akan pencegahan dan deteksi dini DVT, terutama di tengah gaya hidup modern yang cenderung kurang aktif.
Dengan memahami lebih dalam tentang DVT, kita dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat dan mengurangi risiko komplikasi yang berbahaya. Simak lebih lanjut tentang apa itu DVT, gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosis, pilihan pengobatan serta cara mencegahnya dalam artikel ini.