Wawasan Medis

Trombosis Vena Dalam (DVT): Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Pencegahannya

30 January 2025

Apa Itu Trombosis Vena Dalam (DVT)?

Gejala Trombosis Vena Dalam yang Perlu Diwaspadai

Faktor Risiko Trombosis Vena Dalam

Komplikasi Serius yang Dapat Terjadi Jika DVT Tidak Ditangani

Diagnosis dan Pengobatan Trombosis Vena Dalam (DVT)

Langkah Pencegahan DVT yang Efektif

Kesimpulan

Pernahkah Anda merasa kaki bengkak, nyeri, atau kemerahan tanpa sebab yang jelas? Hati-hati, bisa jadi itu adalah tanda dari Trombosis Vena Dalam (DVT), kondisi serius yang sering kali tidak disadari namun berpotensi mengancam jiwa. DVT terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di pembuluh vena dalam, biasanya di kaki, dan jika tidak ditangani, dapat menyebabkan komplikasi yang fatal. 

Meskipun sering dianggap sebagai masalah kesehatan yang jarang terjadi, DVT sebenarnya lebih umum daripada yang kita kira. Bahkan, kondisi ini bisa menyerang siapa saja, terutama mereka yang memiliki gaya hidup kurang aktif atau memiliki riwayat medis tertentu. 

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), DVT dan emboli paru merupakan penyakit kardiovaskular penyebab utama kematian ketiga di dunia setelah serangan jantung dan stroke. Diperkirakan, 10 juta kasus DVT terjadi setiap tahunnya secara global, dengan angka kematian yang mencapai 10% dari total kasus. 

Di Indonesia, meskipun data spesifik tentang DVT masih terbatas, laporan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi penyakit kardiovaskular, termasuk DVT, terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Faktor seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok turut berkontribusi pada peningkatan risiko DVT. 

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Thrombosis and Haemostasis juga menyebutkan bahwa populasi Asia, termasuk Indonesia, memiliki risiko DVT yang signifikan, terutama pada kelompok usia produktif (30-50 tahun). Hal ini menegaskan pentingnya kesadaran akan pencegahan dan deteksi dini DVT, terutama di tengah gaya hidup modern yang cenderung kurang aktif. 

Dengan memahami lebih dalam tentang DVT, kita dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat dan mengurangi risiko komplikasi yang berbahaya. Simak lebih lanjut tentang apa itu DVT, gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosis, pilihan pengobatan serta cara mencegahnya dalam artikel ini.


Apa Itu Trombosis Vena Dalam (DVT)?

Trombosis Vena Dalam (DVT) adalah kondisi medis di mana terbentuknya gumpalan darah (trombus) di dalam pembuluh vena dalam, biasanya di bagian kaki. Pembuluh vena dalam adalah pembuluh darah yang terletak jauh di dalam tubuh, berbeda dengan pembuluh vena superfisial yang berada dekat dengan permukaan kulit. Gumpalan darah ini dapat menghambat aliran darah normal, menyebabkan pembengkakan, nyeri, dan dalam kasus yang parah, komplikasi serius seperti emboli paru

 DVT bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Jika tidak ditangani dengan tepat, gumpalan darah bisa terlepas dan mengalir ke paru-paru, menghambat aliran darah ke organ vital tersebut. Inilah mengapa pemahaman tentang DVT sangat penting untuk deteksi dini dan pencegahan. 

Bagaimana Pembentukan Gumpalan Darah di Vena Dalam Dapat Terjadi? 

Pembentukan gumpalan darah di vena dalam terjadi ketika ada gangguan pada aliran darah, kerusakan pada dinding pembuluh darah, atau peningkatan kecenderungan darah untuk menggumpal. Kondisi ini sering disebut sebagai Trias Virchow, yang mencakup tiga faktor utama: 

  • Stasis Darah: Aliran darah yang melambat, sering terjadi akibat duduk terlalu lama (misalnya, saat perjalanan jauh atau bed rest pasca operasi). 
  • Kerusakan Pembuluh Darah: Cedera pada pembuluh vena, baik karena trauma fisik, operasi, atau infeksi. 
  • Hiperkoagulabilitas: Kondisi di mana darah lebih mudah menggumpal, bisa disebabkan oleh faktor genetik, kehamilan, atau penggunaan obat-obatan tertentu. 

Ketika ketiga faktor ini terjadi bersamaan, risiko terbentuknya gumpalan darah di vena dalam menjadi lebih tinggi. Gumpalan ini dapat menyumbat pembuluh darah, menghambat aliran darah kembali ke jantung, dan menyebabkan gejala seperti pembengkakan dan nyeri. 

Bagian Tubuh yang Paling Sering Terkena Trombosis Vena Dalam 

Meskipun DVT bisa terjadi di mana saja, kaki adalah bagian tubuh yang paling sering terkena, terutama di area betis dan paha. Hal ini karena vena di kaki memiliki tekanan yang lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh untuk mengalirkan darah kembali ke jantung, terutama saat seseorang duduk atau berdiri dalam waktu lama. 

Selain kaki, DVT juga bisa terjadi di lengan, meskipun kasusnya lebih jarang. DVT di lengan biasanya terkait dengan penggunaan kateter vena sentral atau aktivitas yang melibatkan gerakan berulang pada lengan, seperti atlet angkat besi. 

Menurut American Heart Association (AHA), sekitar 90% kasus DVT terjadi di kaki *, sementara sisanya terjadi di lengan atau bagian tubuh lainnya. Pemahaman tentang area tubuh yang rentan terkena DVT dapat membantu kita lebih waspada terhadap gejala-gejala yang muncul. (* Sumber: American Heart Association - Natural History of Venous Thromboembolism)


Gejala Trombosis Vena Dalam yang Perlu Diwaspadai

Berikut ini adalah gejala-gejala DVT yang perlu diwaspadai, mulai dari tanda-tanda umum hingga gejala yang mungkin tidak terlihat jelas. 

1. Gejala-Gejala Umum 

Trombosis Vena Dalam (DVT) sering kali menunjukkan gejala yang khas, terutama di area tempat gumpalan darah terbentuk. Berikut adalah beberapa gejala umum yang perlu diperhatikan: 

  • Pembengkakan: Salah satu tanda paling umum adalah pembengkakan di kaki, terutama di betis atau paha. Pembengkakan ini biasanya terjadi hanya pada satu sisi kaki. 
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman: Nyeri sering dirasakan seperti kram atau ketegangan otot, terutama saat berdiri atau berjalan. Rasa nyeri ini bisa bertambah parah seiring waktu. 
  • Kemerahan atau perubahan warna kulit: Kulit di area yang terkena mungkin terlihat kemerahan atau berubah warna menjadi kebiruan. 
  • Kulit terasa hangat: Area di sekitar gumpalan darah sering kali terasa lebih hangat saat disentuh dibandingkan dengan area lainnya. 

Gejala-gejala ini bisa muncul tiba-tiba atau berkembang secara bertahap, tergantung pada ukuran dan lokasi gumpalan darah. 

2. Gejala yang Mungkin Tidak Disadari 

Tidak semua gejala DVT terlihat jelas. Beberapa gejala mungkin samar atau bahkan tidak disadari, terutama pada tahap awal. Berikut adalah gejala yang sering diabaikan: 

  • Rasa berat atau lelah pada kaki: Beberapa orang mengeluhkan rasa berat atau lelah pada kaki, mirip dengan kelelahan setelah beraktivitas fisik, padahal mereka tidak melakukan aktivitas berat. 
  • Pembengkakan ringan: Pembengkakan mungkin tidak selalu terlihat jelas, terutama jika gumpalan darah masih kecil. 
  • Nyeri yang hilang timbul: Nyeri akibat DVT bisa datang dan pergi, membuat penderita mengira itu hanya nyeri otot biasa. 
  • Gejala mirip flu: Pada beberapa kasus, DVT dapat menyebabkan gejala seperti demam ringan atau rasa tidak enak badan, yang sering disalahartikan sebagai infeksi ringan. 

Gejala-gejala ini sering kali diabaikan karena dianggap tidak serius. Padahal, deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih parah. 

3. Kapan Harus Segera Mencari Bantuan Medis 

DVT adalah kondisi yang memerlukan penanganan medis secepatnya. Segera hubungi dokter atau kunjungi rumah sakit jika Anda mengalami gejala berikut: 

  • Pembengkakan kaki yang tiba-tiba dan parah: Jika salah satu kaki bengkak secara signifikan dalam waktu singkat, terutama jika disertai nyeri. 
  • Nyeri dada atau sesak napas: Ini bisa menjadi tanda bahwa gumpalan darah telah bergerak ke paru-paru dan menyebabkan emboli paru, kondisi yang mengancam jiwa. 
  • Batuk darah: Batuk yang disertai darah adalah gejala serius yang memerlukan penanganan darurat. 
  • Detak jantung cepat atau pusing: Gejala ini bisa mengindikasikan bahwa tubuh kekurangan oksigen akibat emboli paru. 

Menurut American Society of Hematology (ASH), sekitar 30% kasus DVT yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi emboli paru *, yang memiliki tingkat kematian yang tinggi. Oleh karena itu, jangan menunda untuk mencari bantuan medis jika Anda mencurigai adanya gejala DVT. (* Sumber: American Society of Hematology 2021 Guidelines for Management of Venous Thromboembolism: Prevention and Treatment in Patients with Cancer)


Faktor Risiko Trombosis Vena Dalam

Selain penyebab utama yang telah dijelaskan sebelumnya di atas, ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena DVT. Faktor-faktor ini meliputi: 

  • Gaya hidup kurang aktif: Duduk atau berdiri dalam waktu lama tanpa banyak bergerak, seperti saat bekerja di depan komputer atau melakukan perjalanan jauh. 
  • Obesitas: Kelebihan berat badan memberikan tekanan lebih besar pada pembuluh darah di kaki, memperlambat aliran darah. 
  • Merokok: Zat kimia dalam rokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko pembekuan darah. 
  • Usia: Risiko DVT meningkat seiring bertambahnya usia, terutama di atas 60 tahun. 
  • Riwayat keluarga: Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalami DVT atau gangguan pembekuan darah, risiko Anda juga lebih tinggi. 

Menurut World Thrombosis Day, sekitar 60% kasus DVT terjadi pada orang yang memiliki setidaknya satu faktor risiko gaya hidup, seperti kurang aktivitas fisik atau obesitas. 

Kondisi Medis yang Terkait dengan Trombosis Vena Dalam 

Beberapa kondisi medis juga dapat meningkatkan risiko DVT, antara lain: 

  • Kanker: Beberapa jenis kanker dan pengobatannya (seperti kemoterapi) dapat membuat darah lebih mudah menggumpal. 
  • Penyakit jantung: Gagal jantung atau gangguan irama jantung (seperti fibrilasi atrium) dapat memperlambat aliran darah. 
  • Infeksi atau peradangan berat: Kondisi seperti sepsis atau penyakit autoimun dapat memicu pembentukan gumpalan darah. 
  • Varises: Pembuluh vena yang melebar dan tidak berfungsi dengan baik (varises) dapat meningkatkan risiko DVT. 
  • Riwayat DVT sebelumnya: Jika Anda pernah mengalami DVT, risiko untuk mengalaminya lagi lebih tinggi.

Komplikasi Serius yang Dapat Terjadi Jika DVT Tidak Ditangani

Trombosis Vena Dalam (DVT) bukanlah kondisi yang bisa diabaikan. Jika tidak ditangani dengan tepat, DVT dapat menyebabkan komplikasi serius yang mengancam jiwa dan berdampak jangka panjang pada kesehatan. Dalam bagian ini, kita akan membahas dua komplikasi utama yang perlu diwaspadai: emboli paru dan sindrom pasca-trombotik. Dengan memahami risiko ini, Anda dapat lebih waspada dan mengambil langkah cepat untuk mencegah dampak yang lebih buruk. 

1. Emboli Paru (Pulmonary Embolism) dan Bahayanya 

Salah satu komplikasi paling berbahaya dari Trombosis Vena Dalam (DVT) adalah emboli paru. Emboli paru terjadi ketika gumpalan darah di vena dalam terlepas, mengalir melalui aliran darah, dan menyumbat pembuluh darah di paru-paru. Kondisi ini dapat mengancam jiwa karena menghambat aliran darah ke paru-paru, mengurangi pasokan oksigen ke seluruh tubuh. 

Gejala emboli paru meliputi: 

  • Sesak napas tiba-tiba 
  • Nyeri dada yang terasa tajam, terutama saat menarik napas 
  • Batuk darah 
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur 
  • Pusing atau pingsan 

Menurut American Lung Association, emboli paru merupakan penyebab kematian ketiga terkait penyakit kardiovaskular di Amerika Serikat, dengan sekitar 60.000-100.000 kematian setiap tahunnya. Jika tidak segera ditangani, emboli paru dapat menyebabkan kerusakan permanen pada paru-paru atau bahkan kematian mendadak. 

2. Kerusakan Permanen pada Pembuluh Darah (Sindrom Pasca-Trombotik) 

Selain emboli paru, DVT yang tidak ditangani juga dapat menyebabkan sindrom pasca-trombotik (post-thrombotic syndrome), yaitu kerusakan permanen pada pembuluh darah di area yang terkena. Kondisi ini terjadi karena gumpalan darah merusak katup vena, yang berfungsi untuk mengalirkan darah kembali ke jantung. Akibatnya, darah bisa menggenang di kaki, menyebabkan gejala seperti: 

  • Pembengkakan kronis 
  • Nyeri atau rasa berat pada kaki 
  • Perubahan warna kulit atau munculnya luka yang sulit sembuh (ulkus vena) 

Data dari National Blood Clot Alliance menunjukkan bahwa 20-50% pasien DVT dapat mengalami sindrom pasca-trombotik *, terutama jika gumpalan darah tidak diobati dengan cepat. Kondisi ini tidak hanya mengurangi kualitas hidup, tetapi juga memerlukan perawatan jangka panjang untuk mengelola gejalanya. (* Sumber: National Blood Clot Alliance - Venous Stress Disorder: An In-Depth Guide for Patients and Health Care Providers)


Diagnosis dan Pengobatan Trombosis Vena Dalam (DVT)

Diagnosis Trombosis Vena Dalam 

Diagnosis Trombosis Vena Dalam (DVT) dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan medis untuk memastikan adanya gumpalan darah di pembuluh vena dalam. Berikut adalah beberapa metode diagnosis yang umum digunakan: 

  • Ultrasonografi (USG Doppler): Metode ini paling sering digunakan karena aman, cepat, dan akurat. USG Doppler menggunakan gelombang suara untuk memvisualisasikan aliran darah dan mendeteksi gumpalan di pembuluh vena. 
  • D-Dimer Test: Tes darah ini mengukur kadar protein D-dimer, yang biasanya meningkat ketika ada gumpalan darah. Namun, hasil positif perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan lain karena kadar D-dimer bisa tinggi akibat kondisi lain. 
  • Venografi: Prosedur ini melibatkan penyuntikan cairan kontras ke pembuluh vena, diikuti dengan pemindaian sinar-X untuk melihat aliran darah dan mendeteksi gumpalan. Meski akurat, venografi jarang digunakan karena bersifat invasif. 
  • MRI atau CT-Scan: Pemeriksaan ini digunakan jika gumpalan darah dicurigai berada di area yang sulit dijangkau, seperti perut atau panggul. 

Menurut American College of Cardiology (ACC), USG Doppler memiliki akurasi hingga 95% dalam mendiagnosis DVT di kaki, menjadikannya metode pilihan utama. 

Pilihan Pengobatan Trombosis Vena Dalam 

Setelah diagnosis DVT dipastikan, pengobatan segera diperlukan untuk mencegah komplikasi serius. Berikut adalah pilihan pengobatan yang umum direkomendasikan: 

  • Antikoagulan (Pengencer Darah): Obat seperti heparin, warfarin, atau DOACs (Direct Oral Anticoagulants) diberikan untuk mencegah pembentukan gumpalan baru dan menghentikan pertumbuhan gumpalan yang sudah ada. Pengobatan ini biasanya berlangsung selama 3-6 bulan, tergantung pada kondisi pasien. 
  • Terapi Trombolitik: Pada kasus DVT parah yang berisiko menyebabkan emboli paru, obat trombolitik dapat diberikan untuk melarutkan gumpalan darah dengan cepat. Namun, terapi ini memiliki risiko perdarahan yang lebih tinggi. 
  • Stocking Kompresi: Stoking khusus digunakan untuk mengurangi pembengkakan dan mencegah komplikasi seperti sindrom pasca-trombotik. 

Menurut National Health Service (NHS) UK, penggunaan antikoagulan efektif mengurangi risiko emboli paru hingga 80% jika diberikan tepat waktu

Perawatan Jangka Panjang untuk Mencegah Kekambuhan 

Setelah fase akut DVT teratasi, perawatan jangka panjang diperlukan untuk mencegah kekambuhan. Langkah-langkah yang bisa dilakukan meliputi: 

  1. Terapi antikoagulan lanjutan: Beberapa pasien mungkin perlu mengonsumsi pengencer darah dalam jangka panjang, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat DVT berulang atau kondisi genetik yang meningkatkan risiko pembekuan darah. 
  2. Perubahan gaya hidup: Menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, dan rutin berolahraga dapat membantu mengurangi risiko DVT. 
  3. Pemantauan rutin: Pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan berkala ke dokter untuk memantau kondisi pembuluh darah dan menyesuaikan pengobatan jika diperlukan. 

Data dari Journal of Thrombosis and Haemostasis menunjukkan bahwa sekitar 30% pasien DVT berisiko mengalami kekambuhan dalam 10 tahun jika tidak menjalani perawatan pencegahan yang tepat. 

Dengan diagnosis yang akurat dan pengobatan yang tepat, DVT dapat dikelola dengan baik, mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.


Langkah Pencegahan DVT yang Efektif

Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Dengan langkah-langkah sederhana dan perubahan gaya hidup, Anda bisa mengurangi risiko terkena DVT secara signifikan. Berikut ini adalah tips gaya hidup sehat, pentingnya menghindari duduk terlalu lama, serta penggunaan stoking kompresi untuk individu yang berisiko tinggi. 

Tips Gaya Hidup Sehat untuk Mengurangi Risiko Trombosis Vena Dalam 

Menerapkan gaya hidup sehat adalah langkah utama untuk mengurangi risiko Trombosis Vena Dalam (DVT). Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan: 

  1. Rutin berolahraga: Aktivitas fisik seperti berjalan, bersepeda, atau berenang dapat meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah stasis darah. Cobalah untuk berolahraga setidaknya 30 menit sehari, 5 kali seminggu. 
  2. Menjaga berat badan ideal: Kelebihan berat badan memberikan tekanan lebih besar pada pembuluh darah di kaki, sehingga meningkatkan risiko DVT. Konsumsi makanan sehat dan seimbang untuk menjaga berat badan. 
  3. Hidrasi yang cukup: Minum air putih secara teratur membantu menjaga kekentalan darah tetap normal, mengurangi risiko pembekuan. 
  4. Berhenti merokok: Merokok merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko pembekuan. Berhenti merokok adalah langkah penting untuk melindungi kesehatan kardiovaskular Anda. 

Menurut World Health Organization (WHO), gaya hidup aktif dapat mengurangi risiko DVT hingga 40%, terutama pada individu yang memiliki faktor risiko seperti obesitas atau riwayat keluarga. 

Pentingnya Menghindari Duduk Terlalu Lama dan Melakukan Peregangan Saat Bepergian Jauh 

Duduk terlalu lama, baik saat bekerja atau bepergian, dapat memperlambat aliran darah di kaki dan meningkatkan risiko DVT. Berikut cara mencegahnya: 

  1. Lakukan peregangan setiap 1-2 jam: Jika Anda duduk dalam waktu lama, berdirilah dan lakukan peregangan sederhana seperti menggerakkan kaki atau berjalan selama 5-10 menit. 
  2. Gerakkan kaki saat duduk: Lakukan gerakan memutar pergelangan kaki atau mengangkat tumit secara bergantian untuk menjaga aliran darah tetap lancar. 
  3. Hindari menyilangkan kaki: Menyilangkan kaki dapat menghambat aliran darah. Usahakan untuk menjaga posisi kaki tetap lurus. 

Penggunaan Stocking Kompresi untuk Individu yang Berisiko Tinggi 

Stocking kompresi adalah alat yang dirancang khusus untuk membantu meningkatkan sirkulasi darah di kaki dengan memberikan tekanan yang merata. Alat ini sangat bermanfaat bagi individu yang berisiko tinggi, seperti: 

  • Pasien pasca operasi 
  • Wanita hamil 
  • Orang dengan riwayat DVT sebelumnya 
  • Mereka yang harus duduk atau berdiri dalam waktu lama 

Stoking kompresi bekerja dengan cara: 

  1. Mencegah pembengkakan di kaki 
  2. Mengurangi rasa berat atau nyeri 
  3. Menurunkan risiko pembentukan gumpalan darah 

Menurut American Heart Association (AHA), penggunaan stoking kompresi dapat mengurangi risiko DVT hingga 50% pada pasien yang menjalani operasi besar atau memiliki mobilitas terbatas

Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan ini, Anda dapat mengurangi risiko DVT secara signifikan dan menjaga kesehatan pembuluh darah Anda dalam jangka panjang.


Kesimpulan

Trombosis Vena Dalam (DVT) adalah kondisi serius yang terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di pembuluh vena dalam, terutama di kaki. Gejalanya meliputi pembengkakan, nyeri, dan kemerahan pada area yang terkena. Jika tidak ditangani, DVT dapat menyebabkan komplikasi berbahaya seperti emboli paru dan sindrom pasca-trombotik. Faktor risiko DVT meliputi gaya hidup kurang aktif, obesitas, merokok, dan kondisi medis tertentu seperti kanker atau penyakit jantung. Diagnosis DVT dilakukan melalui USG Doppler, tes D-dimer, atau venografi, sedangkan pengobatannya melibatkan penggunaan antikoagulan dan terapi trombolitik. 

Menjaga kesehatan kardiovaskular adalah langkah penting untuk mencegah DVT dan penyakit jantung lainnya. Mulailah dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, dan menghindari rokok. Selain itu, waspadai gejala DVT dan segera konsultasikan ke dokter jika Anda mencurigai adanya tanda-tanda yang tidak biasa. Ingat, deteksi dini dan penanganan cepat dapat menyelamatkan nyawa. 

Jangan menunggu sampai terlambat! Mulailah mengambil langkah pencegahan hari ini untuk melindungi diri dan keluarga dari risiko penyakit kardiovaskular. Jika Anda memiliki faktor risiko DVT, seperti riwayat keluarga atau mobilitas terbatas, pertimbangkan untuk menggunakan stoking kompresi dan berkonsultasi dengan dokter tentang langkah-langkah pencegahan yang tepat. 

Ingatlah bahwa informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti saran medis profesional. Jika Anda memiliki gejala-gejala atau faktor risiko trombosis vena dalam atau penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) lainnya, segera konsultasikan dengan dengan dokter spesialis atau mengunjungi Heartology Cardiovascular Hospital untuk mendapatkan evaluasi dan perawatan yang tepat. 

Heartology Cardiovascular Hospital dikenal sebagai salah satu rumah sakit khusus jantung dan pembuluh darah terdepan dalam layanan kesehatan kardiovaskular di Indonesia. Heartology dilengkapi dengan teknologi medis modern dan didukung oleh tim dokter spesialis kardiovaskular yang berpengalaman dalam menangani berbagai masalah kardiovaskular.  

Di Heartology, Anda akan mendapatkan pendekatan yang komprehensif serta perawatan yang berfokus pada kebutuhan setiap pasien. Tim medis di Heartology siap untuk memberikan penjelasan yang mendetail tentang kondisi, prosedur, risiko, dan manfaat, serta mendiskusikan semua pertanyaan yang Anda miliki seputar kesehatan jantung dan pembuluh darah Anda. 

Dengan fasilitas yang memadai dan profesional medis yang terlatih, Heartology dapat memberikan kepercayaan dan kenyamanan bagi pasien dalam menjalani pemeriksaan dan perawatan kesehatan jantung dan pembuluh darah pasien.


Pertanyaan Umum Seputar Trombosis Vena Dalam (DVT)

Berikut ini beberapa pertanyaan seputar Trombosis Vena Dalam yang seringkali ditanyakan oleh masyarakat di Indonesia pada umumnya.

Ya, DVT bisa sembuh dengan penanganan yang tepat, seperti penggunaan obat pengencer darah dan terapi lainnya. Namun, pada beberapa kasus, pasien mungkin memerlukan perawatan jangka panjang untuk mencegah kekambuhan.

Proses pemulihan DVT biasanya memakan waktu 3-6 bulan dengan pengobatan antikoagulan. Namun, durasi ini bisa lebih lama jika ada komplikasi atau faktor risiko tambahan.

Ya, risiko kekambuhan DVT cukup tinggi, terutama jika faktor risiko seperti obesitas, gaya hidup kurang aktif, atau kondisi genetik tidak dikelola dengan baik. Sekitar 30% pasien DVT berisiko mengalami kekambuhan dalam 10 tahun.

Jika tidak ditangani, DVT dapat menyebabkan komplikasi serius seperti emboli paru, yang berpotensi mengancam jiwa. Namun, dengan diagnosis dan pengobatan tepat waktu, risiko kematian dapat diminimalisir.

Boleh, asalkan olahraga yang dilakukan ringan dan tidak membebani kaki, seperti berjalan atau berenang. Hindari olahraga berat tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu.

Ya, meskipun lebih jarang, DVT bisa terjadi di lengan, terutama pada orang yang menggunakan kateter vena sentral atau melakukan aktivitas berat dengan lengan secara berulang.

Ya, pasien pasca operasi sering diberikan antikoagulan dan disarankan untuk menggunakan stoking kompresi serta melakukan gerakan kaki secara teratur untuk mencegah DVT.

Ya, beberapa kasus DVT tidak menunjukkan gejala yang jelas, terutama pada tahap awal. Ini disebut DVT asimtomatik dan sering terdeteksi secara tidak sengaja melalui pemeriksaan medis.

Terkait dengan

Ada pertanyaan?

icon-waHubungi Kami

Share to

heartology
heartology
heartology