11 Feb 2021

Para Dokter Spesialis ini Menangani Operasi Hybrid Pertama di Indonesia

Para tim dokter di Heartology Cardiovascular Center melakukan operasi hybrid pertama di Indonesia terhadap seorang pasien perempuan berusia 68 tahun.

Pasien itu mengalami keluhan nyeri dada, sesak napas dan memiliki riwayat stroke. Hasil CT-scan menunjukkan kombinasi diseksi aorta dengan robekan dari pangkal aorta jantung hingga ke aorta di perut. Robekan yang ada menimbulkan gejala nyeri dada mirip dengan serangan jantung. Robekan juga melibatkan cabang aorta yang menuju pembuluh darah ke otak sehingga gejala yang muncul menyerupai stroke.

Dari hasil diskusi tim Dokter Heartology yang terdiri dari Dokter Jantung dan Bedah Jantung, diputuskan untuk melakukan Operasi Hybrid, yang terdiri dari tiga prosedur. 

Yaitu Total Arch Replacement, penggantian bagian aorta ascenden dan arcus aorta dengan menggunakan prostetic graft (graft buatan). Kemudian Elephant Trunk, yaitu pemasangan graft untuk mempermudah prosedur stenting selanjutnya. Lalu Thoracic Endovascular Aortic Repair (TEVAR): Pemasangan stent graft pada descending aorta. 

Operasi Hybrid pada pasien ini dilakukan oleh Dr Dicky Aligheri Wartono, SpBTKV (K) dan dr Suko Adiarto, SpJP(K) beserta tim ahli. "Operasi Hybrid adalah kombinasi operasi terbuka dan intervensi aorta yang dilakukan secara bersamaan," ujar Dokter Dicky.

Teknologi dan strategi di atas, memerlukan beberapa monitoring saat operasi yang juga sangat jarang dilakukan pada operasi jantung lain, antara lain seperti dual artery line dan temperature monitoring, nirs (saturasi otak) dan monitoring kompleks lainnya.

TEE (Transesophageal Echocardiography) Dokter BRM Ario Kuncoro, SpJP(K) (Dokter Jantung) melakukan Intraoperative TEE untuk menilai struktur jantung termasuk katup, fungsi jantung, memantau kondisi katup selama dan sesudah operasi, memantau fungsi jantung selama operasi dan menilai penumpukan cairan di selaput jantung maupun selaput paru. TEE akan menilai keterlibatan katup atau kelainan lain, yang tidak secara langsung berkaitan dengan diseksi aorta yg bisa mengubah strategi prosedur tindakan. Pembedahan Dipimpin oleh dr Dicky Aligheri SpBTKV, pembedahan dilakukan dengan tim sejumlah 10 staf ahli.

TEVAR (Thoracic Endovascular Aortic Repair) Dokter Suko Adiarto, SpJP dan tim melakukan pemasangan stent graft pada descending aorta untuk menutup robekan, yang pada kasus ini meluas hingga descending aorta. Stent graft dimasukkan melalui pembuluh darah paha menuju descending aorta dan kemudian ditempelkan pada elephant trunk yang telah dipasang saat pembedahan. Tujuan TEVAR adalah untuk menutup robekan di daerah descending aorta yang belum tercover oleh pembedahan

Pasca-Pembedahan Seluruh pasien yang mengalami pembedahan jantung, harus dirawat di perawatan intensif sekitar 4-5 hari tergantung beratnya kasus dan rumitnya prosedur yang dilakukan. Dr Dafsah Juzar,SpJP(K) dan tim, melakukan pemantauan hemodinamik, perdarahan, fungsi napas, kesadaran, fungsi ginjal dan fungsi tubuh lainnya, secara seksama dari menit ke menit untuk meyakinkan bahwa pasien terawasi dengan baik. Berbeda dengan operasi jantung lain, operasi jenis ini mempunyai derajat pengawasan intensif yang lebih kompleks, antara lain adanya perubahan klinis yang sering kali tidak berhubungan dengan fungsi organ yang terlibat. Melainkan disebabkan oleh manuver/strategi operasi yang dikerjakan sebelumnya. Inilah sebabnya, harus ada komunikasi intensif antara tim ICU dan dokter bedah. "Manfaat Operasi Hybrid Bagi Pasien di antaranya tindakan diagnostik, intervensi dan pembedahan pada saat yang sama. Kemudian keamanan dan hasil klinis lebih baik. Mencegah penundaan tindakan Selain itu, pemulihan lebih cepat dan efektivitas biaya," sambungnya.

Heartology Cardiovascular Center mampu melakukan Operasi Hybrid yang pertama di Indonesia, karena tersedianya teknologi canggih dan tim dokter berpengalaman yang mempunyai rekam jejak yang telah terbukti.
 
 


 

KEMBALI KE HALAMAN BERITA