Patient Stories

Murzaini : Saya Tidak Takut. Saya Sudah Nekat Juga, Saya Yakin

Kondisi kesehatan kita sangat menentukan kualitas hidup seperti apa yang kita rasakan. Badan yang tidak sehat akan membuat kualitas hidup kita menurun. Begitu juga sebaliknya, badan yang sehat akan membuat kualitas hidup kita meningkat.

Hal itulah yang dialami oleh Murzaini, warga Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat dalam beberapa tahun terakhir. Tiga tahun lalu, ia mulai merasakan cepat lelah dan capek ketika berjalan kaki apalagi saat naik tangga.

Dalam setahun terakhir, gejala yang Murzaini rasakan semakin intens bahkan di malam hari ketika ia tidak beraktivitas berat sekalipun. Pria kelahiran Sumatera Barat tahun 1959 itu sering merasakan nyeri di dada.

Murzaini menduga sakit yang ia rasakan berhubungan dengan kegemarannya makan makanan berlemak selama ini. Ia pernah juga merokok, tapi sudah 15 tahun berhenti. Olahraga yang ia lakukan hanya jalan kaki.

Sayangnya, di Sambas tidak ada dokter jantung sehingga untuk mengatasi sakitnya, Murzaini sering berobat di Pontianak yang harus ia tempuh melalui jalan darat selama lebih kurang lima jam. Ia juga memiliki pekerjaan di Pontianak sehingga pergi berobat sekalian menyelesaikan pekerjaan.

Di Pontianak ia diberi obat pereda nyeri. Ia bisa mengonsumsi banyak pereda nyeri untuk menghilangkan rasa nyeri di dadanya.

Ikhtiar untuk mengatasi penyakitnya terus dilakukan Murzaini. Ia pun sempat berkonsultasi ke sebuah rumah sakit rujukan di Jakarta. Serangkaian tes ia jalani meski terasa melelahkan karena berpindah ruang untuk menjalani sejumlah tes yang berbeda.

Di sana ia sempat dikateter dan hasilnya diketahui bahwa pembuluh darah jantungnya menyempit, ada yang sudah 100 persen dan ada yang tinggal 20 persen. Ia pun diminta menunggu keputusan dokter apakah harus menjalani tindakan bypass atau pemasangan stent selama tiga hari.

Namun, setelah tiga hari tidak ada kabar dari rumah sakit tersebut. Bahkan, setelah sebulan menunggu pun masih belum ada kabar. Murzaini jadi kesal dan capek menunggu. Ia akhirnya menghubungi rumah sakit itu. Ternyata, rumah sakit merekomendasikan dirinya untuk menjalani operasi.

Murzaini juga sempat mencoba berobat ke Kuching, Malaysia saat sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Di sana, sumbatannya sempat di balon. Ia merasa baikan selama lebih kurang dua bulan. Tapi, setelah itu sakit yang tak tertahankan muncul lagi hingga ia harus mengonsumsi pereda nyeri hingga 10 butir.

Murzaini akhirnya berobat ke Heartology, keputusan yang didukung penuh oleh keluarganya. Mereka mendukung Murzaini untuk operasi. “Saya tidak takut. Saya sudah nekat juga, saya yakin,” ujarnya tegas.

Di bawah pengawasan dr. Dicky Aligheri, SpBTKV, ia akhirnya menjalani tindakan Coronary Artery Bypass Graft  atau CABG.

CABG adalah tindakan bedah yang memperbaiki aliran darah ke otot jantung dengan membuat jalur pintas (bypass) baru dari bagian pembuluh darah yang tersumbat ke otot jantung. Jalur baru itu menggunakan pembuluh darah sehat yang diambil dari kaki, lengan, atau dada pasien.

Bagi penderita penyakit arteri koroner, operasi ini merupakan tindakan yang bisa menyelamatkan dan memperbaiki kualitas hidup serta pada kelompok orang tertentu bisa memperpanjang usia.

“Jauh sekali perbedaannya sebelum dan sesudah operasi. Napas saya bagus, tidak susah lagi. Dulu minum obat pereda nyeri bisa sampai 10 butir, sekarang tidak lagi,” kata Murzaini dengan lega.

Ayah empat putri itu berpesan, jika mau sehat pasien harus berobat dengan baik dan tidak perlu takut dengan tindakan yang akan dilakukan oleh dokter. Ini tentunya harus dibarengi dengan tetap menjaga kesehatan. “Umur saya sudah 60 tahun, masih tetap kerja tapi mungkin porsinya yang dikurangi,” katanya.

Murzaini 

KEMBALI KE HALAMAN PATIENT STORIES