14 Feb 2021

Mengenal Diseksi Aorta, Bisa Sebabkan Stroke hingga Serangan Jantung

Diseksi aorta merupakan sebuah kondisi ketika lapisan pembuluh darah aorta robek. Pembuluh aorta adalah pembuluh darah arteri terbesar di dalam tubuh yang berfungsi menerima darah kaya oksigen dari jantung dan mengalirkannya ke seluruh tubuh.

Dokter Jantung Spesialis Intervensional Kardiologi dan Vaskular, dr Suko Adiarto, SpJP(K) mengatakan, diseksi aorta atau robeknya pembuluh darah dapat menyebabkan beragam dampak serius.  “Pembuluh darah ini bisa mengalami robekan dan menyebabkan keluhan yang bermacam-macam, tergantung di mana robeknya. Itulah yang menyebabkan diseksi aorta atau robekan aorta,” tuturnya saat acara ‘Media Gathering Heartology Cardiovasular Center tengang Operasi Hybrid Pertama di Indonesia’, beberapa waktu lalu. Dia menjelaskan, ada dua jenis diseksi aorta. Yaitu diseksi aorta tipe A dengan robekan di aorta atas dan tipe B, dengan robekan di aorta bawah. “Data mengungkapkan bahwa angka kematiannya tinggi sekali, sangat tinggi,” ucapnya.

Dr Suko menjelaskan, keluhan pasien diseksi aorta umumnya adalah nyeri di bagian dada.  “Pertama kali yang dikeluhkan adalah nyeri dada. Nyeri punggung, juga bisa. Kalau diukur skala 1-10, maka dari mulai sakit hingga dalam waktu singkat skalanya bisa langsung sampai 10,” katanya. Hal ini, bisa menyebabkan serangan jantung apabila penyumbatan terjadi pada arteri yang memasok darah ke otot jantung. Selain itu, diseksi aorta juga dapat menyebabkan terjadinya pendarahan di rongga paru, stroke, koma, spinal cold injury sehingga menyebabkan kelumpuhan. “Jika dia menutup cabang-cabang di bagian perut, maka akan mengalami nyeri perut, gangguan pencernaan, hingga gagal ginjal. Dan jika tertutup semua, maka akan mengalami kekurangan oksigen dan kegagalan fungsi organ,” katanya

Lantas, apa penyebabnya dan faktor risikonya? Dr Suko mengungkap bahwa faktor risikonya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Kemudian, kelainan bawaan pada jantung, penyakit genetik, cedera pada dada, hingga merokok.

“Dengan mengatasi hipertensi dan mengurangi rokok saja, kita sudah bisa mengurangi (risiko diseksi aorta) ini dengan signifikan,” katanya.

“Kalau ada keluarga atau kerabat yang kemudian mengalami nyeri dada berat tetapi tidak jelas diagnosisnya, maka berpikirlah kalau itu diseksi aorta,” ujarnya.

 

KEMBALI KE HALAMAN BERITA